Hari hari mendatang akan jadi hari hari penting dalam lanskap GeoPolitik global

Hari hari mendatang akan jadi hari hari penting dalam lanskap GeoPolitik global

 

*Tengku Zulkifli Usman

 

 

AS Beberapa bulan ini telah fokus ke Venezuela dan Iran. Di Venezuela sudah selesai dan di Iran AS gagal.

Selain tujuan melawan Islam dan melemahkan poros Pro Axis of Resistance di timur tengah dengan menyerang Iran. Tujuan ini termasuk inti visi AS dalam konteks GeoPolitik asia barat dan keamanan Israel.

Tapi ada juga tujuan lain yang juga sama pentingnya bagi AS, yaitu menjalankan kebijakan anti China secara maksimum. China Containment Policy.

Trump adalah penggagas utama ide dan gagasan “China Containment Policy”, agenda ini telah diluncurkan Agustus 2018 lalu saat periode pertama Trump di gedung putih.

Menyerang Venezuela dan Iran adalah upaya untuk memotong jalur minyak ke China dan mendorong China lemah. Ini pertarungan antara the “Incumbent super power” melawan “emerging super power”.

Sukses di Venezuela, membuat Trump narsis dan percaya diri bisa menjalankan hal ini juga ke Iran. Tapi Hasilnya gagal. AS remuk di Iran dan walaupun perang belum selesai, hampir seluruh rencana AS di Iran saat ini berantakan.

Setelah sukses di Venezuela dan gagal di Iran, langkah selanjutnya AS adalah ke Asia tenggara, mencekik China dengan aliansi AS disini, lewat Selat Malaka salah satunya. Indonesia.

Setelah kehilangan kendali atas selat Hormuz dan Bab Al Mandeb yang merupakan “most vital waterway”, AS perlu bermanuver lebih ke Selat Malaka untuk menghentikan suplai minyak dan energi ke China. Selat Malaka adalah salah satu jalur suplai minyak yang juga sangat penting bagi China.

Di hari hari mendatang, Indonesia akan di push lebih keras oleh AS agar menjalankan kebijakan China Containment Policy oleh Trump. Ini tidak akan terelakkan.

Jika ada kapal perang AS lewat Selat Malaka, itu bukan kebetulan lewat atas nama aktifitas rutin pelayaran di perairan internasional. Itu aksi terkoordinasi AS yang ingin bermain lebih dalam di wilayah ini dengan Indonesia.

Kesepakatan pertahanan Indonesia baru baru ini yang diteken oleh menhan Indonesia dan menteri perang AS Pete Hegseth, itu bukan kerangka kerjasama sederhana. Itu langkah lanjutan AS untuk terus memperdalam kebijakan anti China di wilayah ini.

Trump akan berkunjung ke Beijing dalam waktu dekat, melakukan banyak negosiasi yang kita belum tau secara detail. Tapi kita bisa merasakan atmosfer baru rivalitas AS dan China lewat agenda ini. Atmosfer Multipolar yang akan semakin tegang.

Indonesia akan terus dipaksa AS untuk lawan China, kita akan terus di push agar menjadi mitra strategis Washington untuk Containment China. Suka atau tidak.

Non Blok itu sudah usang, itu hanya berlaku dalam teks pidato formal elit politik. Di lapangan, non blok itu tidak ada, omong kosong, dan AS tidak peduli urusan non blok Indonesia.

Ini kembali ke posisi dan daya tawar Indonesia di depan AS, mau mempertahankan non blok atau mau melupakan posisi itu lalu ikut AS lawan China.

Dengan melihat daya tawar Indonesia saat ini, hampir mustahil posisi non blok bisa dipertahankan. Kita akan dipaksa ikut agenda AS, pemimpin Indonesia saat ini tidak berada pada level mampu menchallange AS dalam isu ini.

Dengan melihat realitas politik dan GeoPolitik saat ini, kecil kemungkinan Indonesia bisa berbuat banyak untuk menegakkan kedaulatan dalam hal apapun dalam konteks dikte AS. Kita masih sangat lemah dalam tema itu, itu hanya dipahami oleh orang yang paham masalah.

China sudah paham soal ini sejak jauh jauh hari, tapi mahzab China bukan mazhab perang, tapi juga bukan berarti China tidak siap perang.

Persoalan paling krusial justru ada di Indonesia, akan dijadikan Medan tempur GeoPolitik AS dan China di Asia. Terutama Asia tenggara. Suka atau tidak.

Jika kita lemah, kita akan dijadikan panitia dan tuan rumah bagi orang yang berberang, tapi kalau kita kuat kita bisa ikut main dan menentukan arah permainan. Tapi faktanya, kita memang lemah, kita bukan siapa siapa dan bukan apa apa saat ini dalam konteks turbulensi AS vs China.

 

 

*Penulis adalah pengamat Internasional 

Berita Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *