Menjaga Marwah Pergerakan dan Idealisme Aktivis: Tumpukan Amplop Bukan Harga Sebuah Perjuangan
*Oleh:
Rosdianah Kifli, S.Pd., M.Pd
Aktivis Perempuan Provinsi NTB
OPINI___Mengatasnamakan gerakan mahasiswa lalu menerima imbalan Rp20 juta untuk mengatur massa, membelokkan arah gerakan, atau mencegah mahasiswa berkumpul di tempat tertentu, itu bukan aktivisme. Itu adalah praktik “tukang olah” yang menjual idealisme demi kepentingan sesaat.
Gerakan mahasiswa lahir dari kegelisahan terhadap persoalan rakyat. Ia dibangun dengan fakta, data, kajian, dan argumentasi yang kuat. Kritik yang disampaikan mahasiswa bukan pepesan kosong, melainkan hasil pemikiran yang terukur dan dapat dipertanggungjawabkan.
Karena itu, kepentingan utama gerakan mahasiswa selalu berada di pihak rakyat, bukan di pihak mereka yang memiliki modal untuk membeli suara dan sikap.
Sejarah telah mengajarkan bahwa aktivis sejati tidak mudah dibeli. Tokoh seperti Mohammad Hatta menghadapi tekanan yang jauh lebih besar daripada sekadar godaan materi. Namun prinsip dan idealisme tetap menjadi pegangan.
Bagi seorang aktivis yang memiliki integritas, harga diri dan kehormatan perjuangan jauh lebih mahal daripada tumpukan uang yang ditawarkan untuk membungkam suara kritis.
Karena itu, ketika ada oknum yang menerima bayaran untuk mengondisikan gerakan, mengatur massa sesuai pesanan, atau menjadikan perjuangan sebagai komoditas, jangan kemudian seluruh gerakan mahasiswa ikut dicap buruk.
Jangan menurunkan martabat gerakan mahasiswa yang murni hanya karena ulah segelintir orang yang gagal menjaga integritasnya. Kesalahan individu tidak boleh menjadi alasan untuk meragukan perjuangan ribuan mahasiswa yang masih bergerak dengan tulus dan penuh tanggung jawab.
Ada yang beralasan bahwa praktik semacam itu sudah biasa terjadi, bahkan dianggap lumrah di kalangan tertentu. Namun sesuatu yang sering terjadi tidak otomatis menjadi benar. Korupsi yang berulang tetaplah korupsi. Pengkhianatan terhadap idealisme yang dilakukan berkali-kali tetaplah pengkhianatan. Karena itu, segala bentuk pembenaran terhadap praktik menerima imbalan untuk mengarahkan gerakan harus ditolak secara tegas.
Aktivis sejati tidak bekerja berdasarkan tarif. Mereka bergerak karena panggilan nurani. Mereka tidak menjual sikap kepada siapa pun yang memiliki uang lebih banyak. Ketika idealisme ditukar dengan amplop, saat itulah perjuangan kehilangan maknanya.
Yang tersisa bukan lagi gerakan mahasiswa, melainkan transaksi kepentingan yang dibungkus dengan atribut perjuangan.
Reputasi aktivisme tidak hancur karena kritik yang keras kepada penguasa. Reputasi aktivisme justru rusak ketika ada orang yang mengaku aktivis tetapi menjual prinsipnya dengan harga murah. Sebab pada akhirnya, sejarah tidak akan mengingat berapa banyak uang yang diterima seseorang, tetapi akan mengingat apakah ia tetap berdiri bersama rakyat atau memilih menjual idealismenya demi kepentingan sesaat.

