Merawat Ikatan, Menjaga Anak: Refleksi Hardiknas 2026 di Sumbawa

Merawat Ikatan, Menjaga Anak: Refleksi Hardiknas 2026 di Sumbawa

 

Oleh. Asmediati

 

Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) seharusnya bukan sekadar seremoni tahunan yang dipenuhi pidato dan upacara. Lebih dari itu, ia adalah momen untuk berkaca—melihat apa yang sudah berjalan baik dan apa yang masih perlu dibenahi dalam dunia pendidikan kita. Di Kabupaten Sumbawa, Hardiknas 2026 diwarnai dengan langkah yang cukup berani: mengangkat isu perundungan (bullying) sebagai perhatian utama, sekaligus mengajak orang tua untuk kembali terlibat lebih dekat dalam kehidupan anak.

Melalui gerakan bertajuk “Bersama Ayah/Ibu Kami Terlindungi”, Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Sumbawa mencoba menawarkan pendekatan yang lebih hangat dan manusiawi. Ini bukan sekadar program formal yang berhenti di atas kertas, tetapi sebuah upaya untuk menyentuh akar persoalan yang selama ini sering diabaikan—yakni renggangnya hubungan emosional antara anak dan orang tua.

Kepala Dinas Dikbud Sumbawa 
Budi Sastrawan, S.Ip.,M.Si.

 

Data yang menjadi dasar lahirnya gerakan ini bukan tanpa alasan. Hasil uji sosiometri di beberapa SMP menunjukkan bahwa perundungan masih menjadi persoalan nyata. Tidak selalu dalam bentuk kekerasan fisik, tetapi juga melalui kata-kata, pengucilan, bahkan tekanan sosial yang halus namun menyakitkan. Banyak anak yang sebenarnya ingin bercerita, tetapi tidak tahu harus berbicara kepada siapa. Di titik inilah peran orang tua menjadi sangat penting.

Selama ini, pendekatan terhadap masalah anak sering kali terlalu administratif. Ketika ada kasus, yang dilakukan adalah pemanggilan, pencatatan, dan penyelesaian formal. Padahal, masalah anak tidak selalu bisa diselesaikan dengan prosedur. Anak butuh didengar, dipahami, dan diterima tanpa dihakimi. Mereka membutuhkan ruang aman, dan ruang itu seharusnya dimulai dari rumah.

Rangkaian kegiatan yang disusun dalam peringatan Hardiknas 2026 ini terasa berbeda karena mencoba mendekatkan kembali hubungan tersebut. Dimulai dengan Festival Permainan Rakyat pada 29 April, orang tua dan anak diajak bermain bersama melalui permainan tradisional seperti balogo dan main hadang. Sekilas mungkin terlihat sederhana, bahkan terkesan seperti kegiatan biasa. Namun, di balik itu, ada pesan yang kuat: membangun kembali kebersamaan yang mungkin selama ini hilang karena kesibukan dan jarak emosional.

Permainan tradisional bukan hanya soal hiburan. Ia mengajarkan kerja sama, kejujuran, dan kebersamaan. Ketika orang tua dan anak bermain dalam satu tim, tanpa sadar mereka sedang membangun kembali komunikasi yang lebih cair. Tidak ada sekat formal seperti di ruang kelas atau di meja makan yang kaku. Yang ada hanyalah tawa, gerak, dan momen kebersamaan yang tulus.

Keesokan harinya, suasana berubah menjadi lebih dalam dan emosional melalui agenda “Satu Jam Bersama Ayah/Ibu di Sekolah”. Dalam kegiatan ini, ruang kelas disulap menjadi ruang percakapan pribadi antara anak dan orang tua. Tidak ada guru yang mengintervensi, tidak ada penilaian, hanya dialog dari hati ke hati.

Bagi sebagian anak, mungkin ini adalah kesempatan pertama mereka untuk benar-benar didengar. Mereka bisa menceritakan apa yang selama ini dipendam—tentang tekanan dari teman, rasa takut, atau bahkan kesepian yang tidak terlihat. Sementara bagi orang tua, ini menjadi pengingat bahwa kehadiran mereka tidak cukup hanya secara fisik. Anak membutuhkan perhatian yang utuh, bukan sekadar memenuhi kebutuhan materi.

Kehadiran orang tua sebagai pendengar aktif memiliki dampak yang sangat besar. Ketika anak merasa didengar, mereka akan merasa dihargai. Ketika mereka merasa dihargai, mereka akan lebih percaya diri untuk menghadapi masalah. Ini adalah bentuk perlindungan yang paling mendasar, yang tidak bisa digantikan oleh aturan sekolah atau hukuman apa pun.

Puncak dari rangkaian kegiatan ini hadir dalam prosesi “Malam Seribu Cahaya”. Dalam suasana hening, lampu dipadamkan, dan hanya cahaya dari senter ponsel yang menerangi. Di momen itu, orang tua, guru, dan masyarakat bersama-sama membacakan ikrar untuk melindungi anak dari perundungan dan pengaruh negatif lainnya.

Prosesi ini mungkin sederhana, tetapi sarat makna. Dalam gelap, kita diingatkan bahwa masih banyak anak yang berjuang sendirian menghadapi tekanan. Cahaya kecil dari senter menjadi simbol harapan—bahwa setiap orang dewasa memiliki peran untuk menjadi penerang bagi mereka. Ini adalah ajakan untuk tidak lagi menutup mata terhadap masalah yang ada.

Rangkaian kegiatan ini kemudian ditutup dengan upacara bendera pada 2 Mei 2026, yang dilaksanakan serentak di seluruh sekolah. Namun, lebih dari sekadar penutupan, momen ini diharapkan menjadi titik awal perubahan. Bahwa pendidikan tidak hanya tentang nilai dan prestasi, tetapi juga tentang rasa aman dan kebahagiaan anak.

Langkah yang diambil oleh Dikbud Sumbawa ini patut diapresiasi, tetapi juga perlu dijaga agar tidak berhenti sebagai seremoni tahunan. Tantangan terbesar justru ada setelah semua acara selesai. Apakah komunikasi antara orang tua dan anak akan tetap terjalin? Apakah sekolah akan terus menjadi ruang yang aman? Atau semuanya akan kembali seperti semula?

Perubahan memang tidak bisa terjadi dalam semalam. Namun, setiap langkah kecil yang dilakukan dengan kesungguhan bisa membawa dampak besar. Mengajak orang tua untuk kembali terlibat adalah langkah yang tepat, karena pendidikan sejatinya adalah tanggung jawab bersama.

Anak-anak kita hidup di zaman yang berbeda, dengan tantangan yang jauh lebih kompleks. Mereka tidak hanya berhadapan dengan dunia nyata, tetapi juga dunia digital yang penuh tekanan. Tanpa pendampingan yang kuat dari orang tua dan lingkungan, mereka bisa dengan mudah tersesat.

Karena itu, menjaga anak bukan hanya soal melindungi mereka dari bahaya fisik, tetapi juga memastikan mereka tumbuh dalam lingkungan yang sehat secara emosional. Lingkungan di mana mereka bisa menjadi diri sendiri tanpa takut dihakimi.

Hardiknas 2026 di Sumbawa memberikan pesan yang sederhana namun mendalam: bahwa pendidikan yang baik dimulai dari hubungan yang baik. Ketika anak merasa dekat dengan orang tuanya, mereka akan lebih kuat menghadapi dunia luar. Ketika sekolah dan keluarga berjalan seiring, maka ruang bagi perundungan akan semakin sempit.

Pada akhirnya, yang kita harapkan bukan hanya sekolah yang berprestasi, tetapi juga generasi yang bahagia, berani, dan saling menghargai. Dan itu semua berawal dari satu hal yang sering kita anggap sepele—meluangkan waktu untuk benar-benar hadir bagi anak-anak kita.[]

Berita Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *