Canangkan Keseimbangan Ekosistem, Bupati Sumbawa Kembali Nanam Mangrove bersama Menteri LH di Alas

Canangkan Keseimbangan Ekosistem, Bupati Sumbawa Kembali Nanam Mangrove bersama Menteri LH di Alas

 

 

 

SUMBAWA, (jejakmedia)|Dalam program rehabilitasi di NTB, PT Freeport Indonesia menanam mangrove seluas 484 hektare, terdiri atas 445 hektare di Kabupaten Sumbawa dan 39 hektare di Lombok Timur. Secara nasional, perusahaan tersebut juga berkomitmen merehabilitasi sekitar 12 ribu hektare mangrove, terutama di Papua.

Jumhur menilai keterlibatan sektor swasta merupakan langkah positif dalam mempercepat pemulihan lingkungan. Namun, ia mengingatkan agar mekanisme perdagangan karbon yang mulai berkembang tidak hanya menjadi ajang spekulasi bisnis.

Menurutnya, pasar karbon dapat menjadi solusi pembiayaan rehabilitasi lingkungan. Mengingat, kebutuhan pendanaan pengurangan emisi Indonesia sangat besar dan tidak mungkin sepenuhnya ditanggung negara.

“Yang paling penting, masyarakat di sekitar lokasi rehabilitasi harus menjadi penerima manfaat utama. Mereka tidak hanya memperoleh pekerjaan, tetapi juga merasakan manfaat ekonomi dari program tersebut,” katanya.

Ia menambahkan, pemerintah mengusung tiga pendekatan dalam pengendalian perubahan iklim, yakni mitigasi, adaptasi, dan prosperity atau peningkatan kesejahteraan masyarakat.

Jumhur berharap, dengan keterlibatan pemerintah, dunia usaha, akademisi, dan masyarakat, gerakan Tobat Ekologis Nasional menjadi penggerak pemulihan kawasan pesisir. Sekaligus memperkuat upaya Indonesia menghadapi perubahan iklim, melalui rehabilitasi mangrove yang berkelanjutan.

Sementara itu, Gubernur NTB, Lalu Muhammad Iqbal menyampaikan apresiasi atas komitmen PT Freeport Indonesia yang memilih NTB sebagai salah satu lokasi rehabilitasi mangrove terbesar di luar Papua.

Ia berharap perusahaan-perusahaan lain yang menghasilkan emisi karbon juga berpartisipasi melakukan penanaman mangrove di berbagai kawasan pesisir NTB, yang dinilai memiliki potensi besar.

“Ini merupakan kontribusi NTB terhadap upaya penyerapan karbon nasional. Ke depan kami juga menyiapkan BUMD yang akan menangani perdagangan karbon sehingga manfaatnya bisa semakin dirasakan daerah,” ujarnya.

Iqbal juga mengungkapkan, Kabupaten Sumbawa memiliki sejumlah spesies mangrove langka yang perlu dikembangkan melalui program pembenihan dan konservasi agar keberadaannya tetap terjaga.

Disisi lain, Bupati Sumbawa, Syarafuddin Jarot, menyatakan daerahnya telah lebih dahulu mendukung gerakan pemulihan lingkungan. Yakni melalui Program Sumbawa Hijau Lestari.

Ia menyebutkan, sepanjang 2025 hingga 2026, Pemerintah Kabupaten Sumbawa telah menanam satu juta pohon melalui berbagai kegiatan penghijauan. Kegiatan tersebut melibatkan pelajar, aparatur sipil negara, hingga pasangan pengantin yang diwajibkan menanam pohon.

“Kami juga telah menandatangani nota kesepahaman dengan Pemerintah Provinsi NTB terkait pengelolaan hutan. Tahun depan penanaman pohon akan kami tingkatkan lagi,” katanya.

Dalam kesempatan yang sama, Presiden Direktur PT Freeport Indonesia, Clayton Allen Wenas menegaskan, rehabilitasi mangrove merupakan bagian dari komitmen perusahaan dalam menurunkan emisi karbon, serta mendukung pelestarian lingkungan.

Ia menjelaskan, perusahaan menargetkan rehabilitasi mangrove seluas 10 ribu hektare di Papua dan dua ribu hektare di luar Papua. NTB dipilih setelah melalui kajian karena memiliki ekosistem pesisir yang sangat mendukung pertumbuhan mangrove.

“Program di NTB merupakan rehabilitasi mangrove terbesar kami di luar Papua. Penanaman dilakukan dengan teknik khusus agar tingkat keberhasilannya tinggi, sebagaimana di Papua yang mencapai sekitar 90 persen,” ujarnya.

Clayton menambahkan, program tersebut juga memberikan dampak ekonomi melalui penyerapan tenaga kerja. Jutaan bibit mangrove yang akan ditanam membutuhkan ribuan pekerja karena proses penanamannya dilakukan secara manual dengan teknik yang disesuaikan dengan kondisi pasang surut.

Selain menyerap karbon dalam jumlah besar, menurutnya keberadaan mangrove akan memperbaiki ekosistem pesisir, meningkatkan habitat ikan dan biota laut, serta memberi manfaat langsung bagi masyarakat, terutama nelayan.

Bupati Sumbawa, Ir Haji Syarafuddin Jarot MP dalam kesempatan tersebut, mengapresiasi,

“Alhamdulillah, hari ini saya telah mendampingi Menteri Lingkungan Hidup/Kepala BPLH Republik Indonesia, Bapak Muhammad Jumhur Hidayat, dalam kunjungan kerja di Kabupaten Sumbawa. Salah satu rangkaian kegiatan yang kami laksanakan adalah penanaman pohon mangrove sebagai wujud nyata komitmen bersama dalam menjaga kelestarian lingkungan pesisir, memperkuat ekosistem pantai, serta meningkatkan ketahanan wilayah terhadap dampak perubahan iklim.

Kehadiran Bapak Menteri menjadi semangat dan motivasi bagi kita semua untuk terus memperkuat sinergi antara pemerintah pusat, pemerintah daerah, dan seluruh elemen masyarakat dalam mewujudkan pembangunan yang berkelanjutan. Mari kita jadikan gerakan menanam dan merawat mangrove sebagai investasi bagi masa depan, demi Sumbawa yang hijau, lestari, dan semakin unggul untuk generasi mendatang.” Imbuhnya.(*)

Berita Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *