SUMBAWA, JEJAKMEDIANEWS — Dinas Kesehatan (Dikes) Kabupaten Sumbawa mencatat adanya lonjakan kasus gangguan kesehatan jiwa di kalangan pelajar yang diduga kuat berkaitan dengan praktik perundungan atau bullying di sekolah dan lingkungan sosial. Data terbaru menunjukkan bahwa puluhan pelajar kini mengalami gejala psikologis serius, termasuk depresi yang mencemaskan para tenaga kesehatan dan pendidik.
dari hasil skrining kesehatan jiwa yang dilakukan oleh Tim Dikes terhadap lebih dari 74.000 pelajar dan kelompok usia produktif, total 161 orang terindikasi mengalami depresi. Dari jumlah itu, 27 orang atau sekitar 16,8 persen merupakan pelajar dan mahasiswa dengan rentang usia 7–24 tahun.
Kepala Bidang Kesehatan Masyarakat Dinas Kesehatan Kabupaten Sumbawa, dr. Abadi Abdullah, menjelaskan bahwa salah satu faktor yang paling sering diidentifikasi sebagai pemicu tekanan psikologis di kalangan pelajar adalah perundungan atau bully di sekolah maupun pergaulan sosial. “Beberapa sekolah mengaku masih menghadapi indikasi praktik perundungan, yang sayangnya belum sepenuhnya terawasi,” ujar dr. Abadi.
“Skrining ini bertujuan untuk mendeteksi sedini mungkin kondisi kesehatan jiwa anak dan remaja,” tambah Ulva Nalaraya, Ketua Tim Kerja Kesehatan Jiwa, NAPZA, Disabilitas, Kekerasan terhadap Perempuan dan Anak, serta Kelompok Rentan di Dikes Sumbawa. Mereka menyatakan bahwa pelajar yang terindikasi mengalami depresi akan difasilitasi layanan konseling di puskesmas berikut edukasi kesehatan mental.
Kasus-kasus perundungan yang terjadi di Kabupaten Sumbawa sendiri telah beberapa kali muncul di media lokal. Misalnya, video aksi perkelahian antara siswi SMP yang viral di media sosial memicu respon cepat dari Dinas Pendidikan setempat untuk memberikan pembinaan terhadap pelajar dan orang tua.
Sementara itu, laporan Kabarsumbawa.com juga menyoroti bahwa tekanan psikologis akibat perundungan dapat berdampak besar pada kondisi mental anak-anak sekolah. Dikes Sumbawa terus memberi perhatian khusus terhadap masalah ini melalui program skrining dan penanganan awal di fasilitas kesehatan setempat.
Para orang tua dan tenaga pendidik diimbau untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap tanda-tanda depresi pada anak, seperti perubahan perilaku, menarik diri dari pergaulan atau kecemasan yang berkepanjangan. Keterlibatan keluarga dan sekolah dalam memberikan dukungan emosional di luar proses pembelajaran formal kini dinilai sangat penting untuk mencegah dampak psikologis jangka panjang akibat perundungan.(@An)

