Zaman AI, Perdukunan Tak Kunjung Usai: Rasionalitas yang Tertatih di Tengah Kemajuan Teknologi
Oleh. Asmediati
Kita hidup di zaman ketika kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) mampu menganalisis data dalam hitungan detik, bahkan membantu diagnosis penyakit dengan tingkat akurasi tinggi. Dunia berubah cepat. Informasi bergerak dalam kecepatan cahaya. Anak-anak sekolah menengah sudah akrab dengan aplikasi berbasis AI, sementara para profesional memanfaatkan teknologi untuk meningkatkan produktivitas.
Namun di sisi lain, praktik perdukunan masih saja dilakoni. Tidak sedikit orang yang ketika menghadapi persoalan hidup—entah urusan jodoh, pekerjaan, usaha, atau konflik rumah tangga—lebih memilih mendatangi dukun daripada berkonsultasi dengan ahli yang kompeten. Fenomena ini menghadirkan ironi: di tengah kemajuan teknologi yang luar biasa, cara berpikir magis masih bercokol kuat.
Pertanyaannya, mengapa di zaman AI praktik perdukunan masih bertahan?
Antara Kemajuan Teknologi dan Ketakutan Manusia
Kemajuan teknologi tidak otomatis menghapus rasa takut, cemas, dan ketidakpastian yang menjadi bagian dari hidup manusia. AI bisa memprediksi tren pasar, tetapi tidak bisa menghapus kegelisahan seseorang yang takut ditinggalkan pasangan. AI mampu menganalisis data kesehatan, tetapi tidak bisa sepenuhnya menenangkan hati orang tua yang khawatir pada masa depan anaknya.
Dalam ruang-ruang ketakutan inilah praktik perdukunan menemukan celah. Dukun menawarkan kepastian instan. Jawaban mereka terdengar tegas, lugas, dan sering kali sesuai dengan harapan klien. Tidak ada grafik statistik yang membingungkan, tidak ada istilah ilmiah yang sulit dipahami. Yang ada adalah janji: “Masalah Anda akan selesai.”
Manusia pada dasarnya mencari rasa aman. Ketika rasionalitas terasa lambat dan penuh prosedur, sementara masalah mendesak, sebagian orang tergoda mencari jalan pintas. Di sinilah konflik antara rasionalitas modern dan pola pikir tradisional terjadi.
Literasi Digital Tidak Sama dengan Literasi Kritis
Banyak orang hari ini mahir menggunakan gawai. Mereka bisa mengakses aplikasi AI, bermain media sosial, dan mengikuti tren digital. Tetapi literasi digital tidak selalu berarti literasi kritis.
Literasi kritis adalah kemampuan untuk memilah informasi, memahami sebab-akibat, serta menilai klaim berdasarkan logika dan bukti. Tanpa kemampuan ini, seseorang bisa saja hidup di era AI, tetapi tetap mempercayai klaim supranatural tanpa pertanyaan.
Ironisnya, media sosial justru menjadi lahan subur bagi promosi praktik perdukunan. Iklan-iklan “pengasihan”, “pembuka rezeki”, atau “pagar gaib” bertebaran dengan testimoni dramatis. Visualnya meyakinkan, narasinya emosional, dan sering kali memanfaatkan algoritma digital untuk menjangkau lebih banyak orang.
Teknologi yang seharusnya mendorong rasionalitas justru dipakai untuk memperluas praktik irasional.
Tradisi, Budaya, dan Keyakinan
Kita juga tidak bisa menutup mata bahwa praktik perdukunan di sebagian masyarakat memiliki akar budaya yang panjang. Dalam konteks tertentu, peran dukun dulunya bukan sekadar soal mistik, tetapi juga menjadi tokoh adat, penyembuh tradisional, atau penasihat komunitas.
Namun persoalannya menjadi berbeda ketika praktik tersebut bergeser menjadi komoditas, bahkan eksploitasi. Ketika rasa putus asa seseorang dimanfaatkan demi keuntungan finansial, maka yang terjadi bukan lagi pelestarian budaya, melainkan manipulasi.
Di sinilah pentingnya membedakan antara kearifan lokal dan praktik yang merugikan. Tidak semua tradisi harus dihapus, tetapi tidak semua pula harus diterima tanpa kritik.
Rasionalitas yang Tertinggal
Kemajuan teknologi sering kali lebih cepat daripada kemajuan pola pikir. Kita bisa membeli ponsel pintar terbaru, tetapi belum tentu memiliki cara berpikir yang kritis dan ilmiah. Kita bisa menggunakan AI untuk menulis tugas sekolah, tetapi tetap percaya bahwa kegagalan bisnis disebabkan oleh “kiriman orang”.
Masalahnya bukan pada teknologi. AI hanyalah alat. Ia netral. Yang menentukan arah adalah manusia yang menggunakannya.
Jika pola pikir masyarakat tidak dibarengi dengan pendidikan yang mendorong nalar, maka teknologi secanggih apa pun tidak akan mengubah cara pandang secara mendasar. Bahkan bisa jadi teknologi hanya menjadi “bungkus modern” bagi praktik lama.
Faktor Ekonomi dan Psikologis
Tidak sedikit orang mendatangi dukun karena merasa tidak punya pilihan lain. Konsultasi psikolog mahal. Pengobatan medis butuh biaya. Proses hukum berbelit. Dalam kondisi ekonomi sulit, solusi instan yang terkesan murah dan cepat terasa menggoda.
Selain itu, ada faktor psikologis yang kuat: kebutuhan untuk didengar. Dukun sering kali menyediakan ruang untuk curhat panjang lebar. Mereka mendengarkan dengan penuh perhatian. Mereka memberi validasi emosional.
Dalam konteks ini, praktik perdukunan tidak hanya soal mistik, tetapi juga tentang kebutuhan manusia akan empati. Jika layanan profesional kurang ramah atau sulit diakses, maka alternatif non-ilmiah akan terus memiliki tempat.
Pendidikan sebagai Kunci
Kita sering mengukur kemajuan bangsa dari infrastruktur dan teknologi. Namun ukuran yang lebih mendasar adalah kualitas pendidikan dan cara berpikir masyarakatnya.
Pendidikan bukan hanya soal menghafal rumus atau lulus ujian. Pendidikan harus menumbuhkan kemampuan bertanya, meragukan klaim tanpa bukti, dan memahami logika sebab-akibat.
Anak-anak dan remaja perlu dibekali dengan pemahaman tentang metode ilmiah, cara kerja psikologi, dan prinsip dasar kesehatan. Mereka juga perlu diajarkan bahwa tidak semua masalah memiliki solusi instan.
Ketika pendidikan berhasil menanamkan pola pikir kritis, praktik yang merugikan akan perlahan kehilangan pasar.
Peran Media dan Tokoh Publik
Media memiliki tanggung jawab besar. Alih-alih menampilkan konten sensasional yang memperkuat mitos, media seharusnya memberikan edukasi berbasis fakta. Begitu pula tokoh publik, pendidik, dan pemimpin masyarakat.
Jika figur-figur yang dihormati justru mempromosikan praktik mistik demi popularitas, maka pesan rasionalitas akan sulit diterima. Sebaliknya, jika mereka secara konsisten mengedukasi dan memberi contoh berpikir ilmiah, masyarakat akan perlahan berubah.
Menghormati Keyakinan, Menolak Eksploitasi
Penting untuk menegaskan bahwa setiap orang berhak atas keyakinannya. Namun kebebasan itu tidak boleh menjadi alasan untuk membiarkan praktik yang menipu, merugikan, atau mengeksploitasi.
Ketika seseorang diminta membayar jutaan rupiah untuk “ritual” yang tidak bisa diverifikasi manfaatnya, kita patut mempertanyakan. Ketika orang sakit diminta menghentikan pengobatan medis demi ritual tertentu, itu sudah berbahaya.
Masyarakat perlu didorong untuk menghormati nilai spiritualitas, tetapi tetap berpijak pada akal sehat.
AI dan Masa Depan Rasionalitas
AI bukan musuh tradisi. Ia adalah simbol kemajuan pengetahuan manusia. Namun AI juga bisa menjadi cermin: apakah kita benar-benar maju, atau hanya modern di permukaan?
Jika di era ketika data dapat diverifikasi dengan mudah kita masih lebih percaya pada bisikan tak kasatmata daripada bukti nyata, maka ada pekerjaan rumah besar yang belum selesai.
Kemajuan sejati bukan hanya soal teknologi, tetapi tentang transformasi cara berpikir. Rasionalitas, empati, dan literasi kritis harus berjalan beriringan.
Penutup: Refleksi untuk Kita Semua
Fenomena bertahannya praktik perdukunan di zaman AI bukan sekadar soal “percaya atau tidak percaya”. Ini adalah refleksi tentang kualitas pendidikan, ketahanan psikologis, kondisi ekonomi, serta peran media dan tokoh masyarakat.
Kita tidak bisa hanya menyalahkan individu yang mendatangi dukun. Kita perlu melihat sistem yang mungkin belum sepenuhnya hadir untuk mereka. Ketika akses terhadap layanan profesional sulit, ketika pendidikan belum membumi, ketika ketidakpastian hidup semakin tinggi, maka praktik instan akan selalu punya ruang.
Namun sebagai masyarakat yang ingin maju, kita perlu berani bercermin. Apakah kita ingin sekadar menjadi pengguna teknologi, atau benar-benar menjadi manusia yang berpikir kritis?
Zaman AI seharusnya menjadi momentum untuk memperkuat rasionalitas, bukan sekadar memamerkan kecanggihan. Karena pada akhirnya, masa depan bukan hanya ditentukan oleh seberapa pintar mesin yang kita ciptakan, tetapi seberapa bijak kita menggunakan akal yang telah dianugerahkan kepada kita.[]

