Untuk Para Pelajar: Jaga Kedamaian Sumbawa, Kekerasan Bukan Jati Diri Kita
Oleh. Asmediati
Sumbawa dikenal sebagai tanah yang ramah, religius, dan menjunjung tinggi nilai-nilai persaudaraan. Dalam sejarah dan kebudayaannya, masyarakat Sumbawa tumbuh dengan semangat saling menghormati, gotong royong, serta menjunjung martabat manusia. Nilai-nilai ini diwariskan dari generasi ke generasi, tidak terkecuali kepada para pelajar sebagai generasi penerus. Karena itu, setiap bentuk kekerasan, permusuhan, dan konflik antarpelajar sejatinya bertentangan dengan jati diri masyarakat Sumbawa.
Belakangan ini, kita kerap mendengar atau menyaksikan gesekan antarpelajar, baik berupa ejekan, perkelahian, hingga konflik yang melibatkan nama sekolah. Fenomena ini patut menjadi perhatian bersama. Sekolah yang seharusnya menjadi ruang aman untuk belajar, bertumbuh, dan membangun karakter, justru berpotensi menjadi ladang konflik apabila nilai-nilai kedamaian tidak dijaga. Padahal, pelajar adalah harapan masa depan Sumbawa, bukan simbol kekerasan yang mencederai persaudaraan.
Kekerasan, dalam bentuk apa pun, tidak pernah menyelesaikan masalah. Ia hanya melahirkan luka baru, dendam yang berlapis, dan trauma yang panjang. Ketika satu konflik diselesaikan dengan adu fisik atau permusuhan, maka yang terjadi bukanlah kemenangan, melainkan kekalahan bersama. Nama baik sekolah tercoreng, hubungan antarteman rusak, dan masa depan pelajar dipertaruhkan hanya demi emosi sesaat.
Para pelajar perlu menyadari bahwa perbedaan adalah keniscayaan. Perbedaan sekolah, latar belakang keluarga, gaya pergaulan, bahkan cara berpikir, bukanlah alasan untuk saling merendahkan. Justru dari perbedaan itulah kita belajar tentang toleransi, kedewasaan, dan empati. Pelajar yang hebat bukanlah mereka yang ditakuti, melainkan mereka yang mampu merangkul, mengajak berdialog, dan menyelesaikan masalah dengan kepala dingin.
Sumbawa memiliki kearifan lokal yang kuat dalam menjaga harmoni sosial. Nilai saling menghormati, musyawarah, dan rasa malu ketika berbuat salah seharusnya menjadi pegangan para pelajar. Dalam budaya Sumbawa, menyakiti orang lain bukanlah hal yang dibanggakan. Keberanian sejati bukan diukur dari seberapa kuat pukulan, melainkan dari seberapa besar kemampuan menahan diri dan mengendalikan emosi.
Hubungan baik antarpelajar dari sekolah yang berbeda perlu terus dijalin. Pelajar tidak hidup dalam sekat-sekat sempit bernama sekolah semata. Mereka hidup dalam satu ruang sosial yang sama, satu daerah yang sama, dan satu masa depan yang saling terkait. Ketika pelajar dari berbagai sekolah mampu saling mengenal, berdialog, dan bekerja sama dalam kegiatan positif, maka bibit konflik akan semakin kecil ruang tumbuhnya.
Kegiatan bersama lintas sekolah, seperti diskusi pelajar, lomba seni dan olahraga yang menjunjung sportivitas, aksi sosial, dan forum kepemudaan, dapat menjadi jembatan persaudaraan. Dari interaksi yang sehat inilah tumbuh rasa saling memahami dan menghargai. Pelajar akan belajar bahwa teman dari sekolah lain bukanlah lawan, melainkan mitra dalam membangun diri dan daerah.
Peran media sosial juga perlu disikapi dengan bijak oleh para pelajar. Di era digital, konflik sering kali bermula dari unggahan yang provokatif, komentar yang merendahkan, atau penyebaran informasi yang tidak benar. Apa yang ditulis di dunia maya bisa berdampak nyata di dunia nyata. Oleh karena itu, pelajar harus belajar bertanggung jawab atas setiap kata dan konten yang dibagikan. Media sosial seharusnya menjadi sarana berbagi inspirasi, bukan panggung adu kebencian.
Guru dan orang tua tentu memiliki peran penting dalam mendampingi pelajar. Namun, pada akhirnya, pilihan untuk bersikap damai atau kasar ada di tangan pelajar itu sendiri. Kedewasaan tidak selalu datang seiring usia, melainkan melalui kesadaran dan kemauan untuk belajar. Pelajar yang mampu menolak ajakan kekerasan dan memilih jalan damai sesungguhnya sedang menunjukkan kualitas kepemimpinan.
Menjaga kedamaian Sumbawa bukan hanya tugas aparat atau tokoh masyarakat, melainkan tanggung jawab bersama, termasuk para pelajar. Kedamaian adalah modal utama untuk belajar dengan tenang, berkarya dengan maksimal, dan meraih prestasi. Daerah yang damai akan melahirkan generasi yang cerdas, kreatif, dan berdaya saing.
Pelajar Sumbawa harus bangga menjadi bagian dari masyarakat yang menjunjung nilai persaudaraan. Kebanggaan itu tidak cukup diucapkan, tetapi harus diwujudkan dalam sikap dan perilaku sehari-hari. Menyapa teman dari sekolah lain, menghormati perbedaan, menahan diri dari provokasi, serta memilih dialog daripada kekerasan adalah bentuk nyata cinta terhadap daerah sendiri.
Di masa depan, para pelajar inilah yang akan menjadi pemimpin, pendidik, pengusaha, dan pengambil kebijakan. Rekam jejak hari ini akan menjadi cermin esok hari. Jika sejak dini terbiasa menyelesaikan masalah dengan kekerasan, maka kekerasan pula yang akan diwariskan. Sebaliknya, jika sejak sekarang dilatih untuk berdamai, maka kedamaian akan menjadi budaya yang mengakar.
Sudah saatnya para pelajar mengambil peran sebagai duta kedamaian. Bukan hanya menjaga diri sendiri, tetapi juga saling mengingatkan teman sebaya. Menolak tawuran, menenangkan konflik, dan melaporkan potensi kekerasan adalah bentuk keberanian moral yang patut diapresiasi. Sikap ini tidak menjadikan pelajar lemah, justru menunjukkan kekuatan karakter.
Sumbawa yang damai adalah Sumbawa yang memberi ruang luas bagi generasi mudanya untuk tumbuh dan bermimpi. Jangan biarkan amarah sesaat merusak harapan panjang. Kekerasan bukan jati diri kita, bukan pula warisan yang layak dipertahankan. Jati diri pelajar Sumbawa adalah santun, berani bertanggung jawab, dan mampu hidup berdampingan dalam perbedaan.
Mari jalin hubungan baik dengan teman pelajar dari sekolah lain. Mari rawat persaudaraan dan hentikan siklus kekerasan. Karena masa depan Sumbawa tidak dibangun dengan tangan yang mengepal, melainkan dengan tangan yang saling menggenggam dalam semangat damai dan kebersamaan.[]

