Tragedi Sebuah Buku di Republik Pancasila

Tragedi Sebuah Buku di Republik Pancasila

 

Oleh Asmediati 

 

 

JEJAKMEDIANEWS–Sebuah buku tergeletak dalam bayang-bayang yang tak sempat dibaca.

Di halaman pertama, negeri ini menulis janji tentang masa depan.

Namun bagi seorang anak, buku itu justru menjelma jurang yang sunyi.

Tak ada teriakan, hanya luka yang jatuh perlahan ke dalam diam.

Dan republik ini seperti lupa, bahwa tragedi kadang lahir dari hal paling sederhana.

Di rumah yang sempit, seorang ibu menghitung kekurangan dengan tangan gemetar.

Harga buku terasa lebih berat dari beban hidup yang telah lama dipikulnya.

Kemiskinan mengajarkan mereka cara menunda kebutuhan, tapi tidak rasa malu.

Anak itu belajar terlalu dini bahwa keinginan bisa menjadi kemewahan.

Betapa pilunya ketika pendidikan berubah menjadi sesuatu yang menakutkan.

Sementara itu, negeri terus berbicara tentang generasi unggul dan masa depan emas.

Anggaran ditata rapi, angka-angka berdiri tegap seperti monumen kemajuan.

Namun sebuah buku kecil justru tak sanggup dijangkau oleh tangan mungil.

Seolah masa depan boleh dirancang besar, asal tangis tetap tersembunyi.

Satirnya, kita pandai menghitung triliunan, tetapi terlalu sering gagal membaca penderitaan.

Podium-podium menyala terang, dan pidato dilahirkan dengan suara penuh keyakinan.

Tepuk tangan mengalir hangat, seperti hujan buatan yang menenangkan hati penguasa.

Tetapi tak satu pun gema itu sampai ke sudut tempat tragedi bertumbuh.

Di sana hanya ada sepi, dan seorang anak yang merasa tertinggal sendirian.

Kemajuan pun terdengar seperti cerita jauh yang tak pernah benar-benar datang.

 

Sekolah disebut rumah harapan, tetapi tidak semua anak merasa pulang.

Ada yang duduk sambil menyembunyikan kekurangan di balik senyum tipis.

Ada yang menunduk agar pertanyaan sederhana tak berubah menjadi luka.

Dan perlahan mereka percaya bahwa diam adalah cara paling aman untuk bertahan.

Padahal pendidikan seharusnya membuka pintu, bukan justru menutupnya.

 

Pancasila kita ucapkan dengan khidmat, seolah ia cahaya yang tak pernah padam.

Keadilan sosial menggema di setiap upacara, terdengar begitu agung.

Namun keagungan itu retak ketika sebuah buku dapat merenggut harapan.

Cermin republik memantulkan wajah kita—dan garis retaknya kian jelas.

Sebab bangsa selalu dikenang dari caranya menjaga yang paling rapuh.

 

Kini tragedi itu menggantung seperti senja yang enggan selesai.

Berapa banyak buku harus berubah menjadi duka sebelum nurani terbangun.

Haruskah kehilangan menjadi bahasa agar negara akhirnya mendengar.

Atau kita akan terus berjalan, berpura-pura semuanya baik-baik saja.

Semoga suatu hari republik ini belajar bahwa satu buku tak boleh lagi seharga satu nyawa.[]

Berita Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *