Tradisi dan Kearifan yang terus terawat: Makna Sedekah Ponan bagi Generasi Sumbawa

Tradisi dan Kearifan yang terus terawat: Makna Sedekah Ponan bagi Generasi Sumbawa

 

*Sri Asmediati, S.Pd.

 

 

 

OPINI, SUMBAWA JEJAKMEDIANEWS |Di tanah Sumbawa, tradisi bukan sekadar peninggalan masa lalu yang disimpan di etalase budaya. Ia hidup, bernapas, dan bergerak bersama denyut masyarakatnya. Salah satu wujud kearifan lokal yang terus dijaga hingga kini adalah Sedekah Ponan. Bagi sebagian orang, ia mungkin tampak sebagai ritual sederhana: berkumpul, berdoa, berbagi hidangan, dan merayakan kebersamaan. Namun di balik kesederhanaannya, Sedekah Ponan menyimpan makna sosial, spiritual, dan ekologis yang mendalam—sebuah penanda jati diri kolektif orang Sumbawa di tengah derasnya arus modernisasi.

Sedekah Ponan pada dasarnya adalah ekspresi syukur masyarakat atas rezeki yang diberikan Tuhan, khususnya terkait hasil bumi dan keselamatan hidup. Dalam praktiknya, warga membawa makanan, hasil panen, atau sajian khas ke suatu tempat yang telah disepakati—bisa di rumah tokoh adat, balai desa, atau ruang terbuka yang dianggap sakral. Di sana, doa dipanjatkan bersama, harapan dirajut, dan kebersamaan diteguhkan. Nilai-nilai gotong royong dan saling berbagi menjadi ruh utama yang menyatukan semua lapisan masyarakat, tanpa memandang latar belakang ekonomi, pendidikan, maupun status sosial.

Dalam konteks masyarakat agraris seperti Sumbawa, Sedekah Ponan juga menjadi simbol hubungan harmonis antara manusia dan alam. Tanah yang subur, hujan yang turun tepat waktu, serta panen yang melimpah bukan hanya dipandang sebagai hasil kerja keras petani, tetapi juga sebagai anugerah Ilahi yang patut disyukuri. Di sini, tradisi berfungsi sebagai jembatan spiritual yang mengingatkan manusia agar tidak serakah, agar tetap rendah hati, dan agar selalu menjaga keseimbangan dengan lingkungan sekitar.

Namun, makna Sedekah Ponan tidak berhenti pada dimensi spiritual semata. Ia adalah ruang sosial yang mempertemukan warga, memperkuat ikatan kekeluargaan, dan menyelesaikan jarak-jarak emosional yang mungkin terbentuk dalam kehidupan sehari-hari. Dalam satu hamparan tikar, pejabat desa duduk sejajar dengan petani, guru berbincang dengan nelayan, dan anak-anak bermain di antara orang tua yang saling bertukar cerita. Di sinilah demokrasi sosial bekerja secara alami—tanpa podium, tanpa protokol resmi, hanya dengan ketulusan dan kebersamaan.

Di tengah dunia yang kian individualistis, Sedekah Ponan menjadi pengingat bahwa manusia tidak bisa hidup sendiri. Nilai berbagi yang terkandung di dalamnya mengajarkan bahwa rezeki bukan hanya untuk dinikmati secara pribadi, tetapi juga untuk dirasakan bersama. Bagi keluarga yang kurang mampu, momen ini menjadi kesempatan untuk menikmati hidangan yang mungkin jarang mereka rasakan. Bagi yang berkecukupan, ia menjadi ruang untuk menunaikan tanggung jawab sosial secara nyata, bukan sekadar wacana.

Meski demikian, tantangan terhadap keberlangsungan tradisi ini tidak bisa diabaikan. Modernisasi, urbanisasi, dan perubahan pola hidup telah menggeser cara pandang sebagian generasi muda terhadap ritual-ritual adat. Ada yang menganggapnya kuno, tidak relevan, atau sekadar formalitas tanpa makna. Di sinilah peran pendidikan dan keluarga menjadi krusial: menanamkan pemahaman bahwa tradisi bukan beban masa lalu, melainkan fondasi untuk membangun masa depan yang berkarakter.

Pemerintah daerah dan tokoh masyarakat juga memiliki tanggung jawab moral untuk merawat Sedekah Ponan agar tidak tergerus zaman. Dukungan tidak harus selalu dalam bentuk anggaran besar atau festival megah. Terkadang, yang dibutuhkan hanyalah ruang, waktu, dan pengakuan bahwa tradisi ini penting bagi identitas daerah. Integrasi nilai-nilai Sedekah Ponan dalam kegiatan sekolah, misalnya, dapat menjadi cara efektif untuk mengenalkan maknanya kepada generasi muda secara kontekstual dan berkelanjutan.

Menariknya, Sedekah Ponan juga memiliki potensi sebagai daya tarik budaya yang dapat memperkuat pariwisata berbasis kearifan lokal. Wisatawan tidak hanya datang untuk melihat pemandangan alam, tetapi juga untuk merasakan pengalaman sosial dan spiritual yang autentik. Namun, di sini kehati-hatian sangat diperlukan. Tradisi tidak boleh direduksi menjadi sekadar tontonan. Esensi kebersamaan dan ketulusan harus tetap menjadi inti, bukan dikorbankan demi kepentingan ekonomi semata.

Lebih jauh, Sedekah Ponan dapat dibaca sebagai kritik halus terhadap gaya hidup konsumtif yang kian menguat. Dalam tradisi ini, makanan bukan simbol kemewahan, melainkan sarana berbagi. Tidak ada kompetisi siapa yang membawa hidangan paling mewah atau paling mahal. Yang ada hanyalah niat untuk memberi dan menerima dengan lapang dada. Nilai ini terasa semakin relevan di tengah budaya pamer yang marak di media sosial, di mana kebahagiaan sering diukur dari apa yang terlihat, bukan dari apa yang dirasakan.

Dalam dimensi politik lokal, Sedekah Ponan juga bisa menjadi ruang dialog yang cair antara masyarakat dan pemangku kebijakan. Tanpa harus berbicara di forum resmi, aspirasi, keluhan, dan harapan dapat tersampaikan secara informal. Ini adalah bentuk partisipasi warga yang organik, yang jika dikelola dengan baik, dapat memperkuat kepercayaan publik terhadap pemerintah. Tentu saja, hal ini menuntut kepekaan dan kesediaan para pemimpin untuk benar-benar mendengar, bukan sekadar hadir sebagai simbol.

Di sisi lain, penting untuk menjaga agar Sedekah Ponan tidak terjebak dalam politisasi. Tradisi ini harus tetap menjadi milik bersama, bukan alat kampanye atau legitimasi kekuasaan. Ketulusan yang menjadi jantungnya akan pudar jika ia dipenuhi spanduk, slogan, dan kepentingan sesaat. Masyarakat perlu waspada, sekaligus tegas, dalam menjaga kemurnian nilai-nilai yang diwariskan oleh para leluhur.

Pada akhirnya, Sedekah Ponan adalah cermin dari wajah Sumbawa itu sendiri: ramah, terbuka, dan penuh rasa syukur. Ia mengajarkan bahwa kemajuan tidak harus berarti meninggalkan akar budaya. Justru sebaliknya, dengan berpegang pada nilai-nilai lokal, masyarakat dapat melangkah lebih mantap menghadapi perubahan global. Tradisi ini menjadi jangkar yang menahan agar kita tidak hanyut dalam arus zaman yang sering kali melupakan makna kebersamaan.

Bagi generasi muda, Sedekah Ponan adalah undangan untuk mengenal diri sendiri melalui jejak sejarah komunitasnya. Di dalamnya tersimpan pelajaran tentang empati, tanggung jawab sosial, dan penghormatan terhadap alam. Pelajaran-pelajaran ini tidak selalu bisa ditemukan di buku teks atau ruang kelas, tetapi hidup dalam praktik sehari-hari yang diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya.

Maka, merawat Sedekah Ponan bukan hanya soal melestarikan sebuah ritual, melainkan menjaga nilai-nilai kemanusiaan yang menjadi fondasi kehidupan bermasyarakat. Di tengah dunia yang serba cepat dan serba instan, tradisi ini mengajak kita untuk sejenak berhenti, menunduk dalam doa, menengadah dalam syukur, dan merengkuh sesama dalam kebersamaan.

Sumbawa, dengan segala dinamika dan tantangannya, memiliki kekayaan budaya yang tak ternilai. Sedekah Ponan adalah salah satu permata di dalamnya—berkilau bukan karena gemerlapnya, tetapi karena ketulusan yang memancar dari setiap tangan yang memberi dan setiap hati yang menerima. Selama nilai-nilai ini terus dijaga, Sedekah Ponan akan tetap relevan, tidak hanya sebagai warisan masa lalu, tetapi sebagai panduan moral untuk masa depan.[]

 

*Penulis adalah Pemerhati Sosial Budaya Sekaligus Guru Senior dan tinggal di Sumbawa Besar

Berita Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *