Oleh. Asmediati
OPINI SUMBAWA, JEJAKMEDIA NEWS |Belakangan ini, ramai dibahas kabar tentang kemungkinan lenyapnya internet dan listrik selama sekitar seminggu. Entah itu isu serius, simulasi, atau sekadar wacana, yang jelas satu hal langsung terlihat: banyak orang panik. Media sosial mendadak penuh dengan saran darurat— siapkan senter, genset, power bank, radio, sampai stok sembako. Grup keluarga ramai, grup RT ikut ribut, bahkan yang biasanya cuma kirim stiker “pagi-pagi” mendadak jadi ahli survival.
Dan jujur saja, semua saran itu masuk akal. Siapa sih yang mau hidup seminggu tanpa listrik dan sinyal? Di zaman sekarang, mati lampu satu jam saja rasanya sudah seperti terlempar ke zaman batu. Notifikasi berhenti, Wi-Fi mati, paket data tak berguna. Tiba-tiba kita bingung mau ngapain.
Tapi di tengah semua hiruk-pikuk itu, ada satu hal menarik yang jarang dibahas: bagaimana dengan “stok batin” kita? Kalau bukan cuma listrik yang mati, tapi juga kenyamanan, rutinitas, dan kebiasaan kita, apa yang masih bisa kita pegang?
Rasulullah صلى الله عليه وسلم pernah berwasiat bahwa akan datang suatu masa di mana dunia kembali seperti zaman lampau. Banyak orang menafsirkan ini dengan berbagai cara. Tapi kalau kita tarik ke konteks sekarang, mungkin maksudnya sederhana: jangan terlalu percaya diri dengan semua yang kita miliki hari ini. Sebab, apa pun yang berbasis dunia, suatu saat bisa hilang, rusak, atau berhenti.
Coba bayangkan, pagi hari tanpa alarm ponsel. Tidak ada suara notifikasi WhatsApp, tidak ada berita di beranda, tidak ada scroll TikTok sambil setengah sadar. Yang ada cuma cahaya matahari yang masuk lewat jendela dan suara orang rumah yang mulai beraktivitas.
Kedengarannya sepele, tapi buat sebagian dari kita, itu sudah terasa “aneh”. Kita hidup di zaman di mana layar adalah bagian dari tubuh. Bangun tidur, yang pertama kita cari bukan sandal atau gelas minum, tapi ponsel. Sebelum doa pagi, sebelum sarapan, sebelum menyapa orang rumah, kita sudah menyapa dunia maya. Kita tahu kabar selebritas yang bahkan tidak kita kenal, tapi sering lupa menanyakan kabar tetangga yang tinggal di sebelah rumah.
Kalau listrik dan internet benar-benar mati, semua itu tiba-tiba berhenti. Dan di situlah kita dipaksa kembali ke dunia nyata. Dunia yang selama ini sering kita lewatkan begitu saja. Di sinilah iman dan tauhid jadi terasa lebih nyata, bukan cuma sebagai istilah di buku atau ceramah, tapi sebagai pegangan hidup. Tauhid mengajarkan satu hal sederhana tapi dalam: pusat hidup kita bukan teknologi, bukan sistem, bukan fasilitas, tapi Allah.
Jadi, ketika semua “penopang” duniawi itu hilang, kita tidak ikut runtuh. Senter bisa kita beli, genset bisa kita sewa, power bank bisa kita isi. Tapi ketenangan hati tidak bisa kita beli di toko online.
Harapan tidak bisa kita pesan lewat aplikasi. Semua itu tumbuh dari dalam. Banyak orang mungkin baru sadar betapa bergantungnya kita pada hal-hal kecil.
Misalnya, betapa repotnya hidup tanpa listrik: air tidak mengalir, kipas tidak berputar, nasi tidak bisa dimasak pakai rice cooker. Tapi di balik semua kerepotan itu, ada pelajaran besar: ternyata kita tidak sekuat dan secerdas yang kita kira. Kita tetap makhluk yang butuh bantuan— baik dari sesama manusia, maupun dari Tuhan. Coba bayangkan suasana kampung atau komplek perumahan saat listrik mati total.
Anak-anak keluar rumah, main petak umpet di bawah cahaya bulan. Orang dewasa duduk di teras, ngobrol, saling berbagi cerita. Lilin atau lampu senter jadi penerang bersama. Ada suasana yang, anehnya, justru terasa hangat.
Kita mungkin baru sadar bahwa selama ini kita terlalu sibuk dengan dunia masing�masing. Pintu rumah tertutup, jendela tertutup, hati pun ikut tertutup. Tapi ketika gelap datang, kita membuka pintu, mencari cahaya, dan tanpa sadar, mencari manusia lain.
Di situ iman dan kemanusiaan bertemu. Orang yang imannya hidup biasanya tidak hanya memikirkan dirinya sendiri. Ia bertanya, “Tetangga sudah punya lampu belum?”
“Keluarga di ujung gang sudah makan belum?” Tauhid yang benar bukan cuma membuat kita rajin beribadah, tapi juga peka terhadap sekitar.
Kita sering bicara tentang persiapan fisik. Tapi jarang bicara tentang persiapan mental dan spiritual. Padahal, dalam krisis, yang pertama runtuh bukan stok makanan, tapi ketenangan pikiran. Orang yang panik bisa bertindak egois. Orang yang takut bisa lupa berbagi. Orang yang putus asa bisa kehilangan arah.
Iman yang kuat itu seperti kompas. Dalam gelap, ia tidak selalu menunjukkan jalan keluar secara instan, tapi ia menunjukkan arah yang benar. Ia mengingatkan bahwa setiap ujian punya makna.
Bahwa setiap kesulitan tidak datang sendirian, tapi selalu membawa pelajaran. Di era digital, makna perayaan pun mengalami pergeseran. Dokumentasi acara tidak lagi berhenti di album foto keluarga, tetapi menyebar luas di ruang maya. Satu unggahan dapat Maka, saat orang-orang sibuk menyiapkan senter dan sembako, tidak ada salahnya kita juga menyiapkan hal lain: kesabaran, kepedulian, dan keyakinan. Tidak ada salahnya kita “mengisi” bukan hanya power bank, tapi juga hati.
Senter bisa menerangi sudut ruangan, tapi iman bisa menerangi arah hidup. Genset bisa menghidupkan lampu, tapi tauhid bisa menghidupkan harapan. Power bank bisa menghidupkan ponsel, tapi doa bisa menghidupkan jiwa.
Kalau suatu hari dunia benar-benar gelap—entah karena listrik mati, internet hilang, atau masalah lain—semoga kita tidak ikut gelap. Semoga kita justru menjadi bagian dari cahaya itu. Cahaya yang datang dari sikap tenang di tengah panik, dari tangan yang mau berbagi di tengah kekurangan, dan dari hati yang tetap percaya bahwa setiap malam, sepekat apa pun, pasti punya pagi.
Sebab, pada akhirnya, yang paling kita butuhkan bukanlah sinyal penuh atau baterai 100 persen, tapi hati yang penuh keyakinan dan hubungan yang penuh kasih.[]

