Paradoks Prabowo: Pemuja Trump yang Ingin Jadi Mediator
Oleh Asmediati
Prabowo Subianto tampil di panggung internasional sebagai mediator konflik AS–Israel vs Iran, sambil nyaman berada di orbit Trump. Posisi ini ironi: memuja kekuatan adikuasa tapi ingin dipercaya sebagai penjaga perdamaian. Publik menertawakan paradoks ini, karena sulit membayangkan Iran percaya mediator yang satu kamar dengan Trump. Netralitas yang diinginkan tampak seperti sandiwara diplomatik yang cacat skenario.
Serangan yang menewaskan Ayatollah Ali Khamenei mengguncang dunia Islam, dan publik menuntut sikap tegas. Indonesia menawarkan mediasi, tapi posisi dekat Trump membuatnya kurang kredibel bagi Iran. Strategi pragmatis ini aman geopolitik tapi mahal moral. Netizen menertawakan situasi sebagai “mediator tapi penggemar Trump”.
Media domestik menyebut ini “mediator yang takut bos besar”. Indonesia ingin mediasi tapi tetap menjaga jarak aman dari AS. Posisi mediasi tampak ambigu dan skeptisisme tetap tinggi. Ketakutan akan punishment AS menjadi humor sekaligus kenyataan pahit.
Dari sisi ekonomi, pragmatisme masuk akal karena AS adalah pasar utama. Terlalu vokal menentang AS bisa memicu sanksi atau tarif. Prabowo harus menjaga hubungan tanpa kehilangan wajah diplomatik. Publik menilai kepentingan ekonomi menenggelamkan moral publik.
Strategi menghadapi dilema: tetap di BoP atau menonjolkan solidaritas moral. Keluar dari BoP bisa hilang akses negosiasi dengan kekuatan besar. Tetap di forum memberi leverage, tapi kredibilitas moral dipertanyakan. Penggemar Trump ingin dipercaya sebagai mediator dunia Islam.
Kegagalan BoP menghentikan agresi AS–Israel menambah ironi. Forum yang seharusnya menjamin perdamaian malah legitimasi agresor. Indonesia kecil di tengah kekuatan global yang menentukan agenda. Mediasi terlihat sebagai atraksi diplomatik.
Ketakutan akan punishment AS bukan retorika. Ancaman sanksi mengganggu stabilitas nasional. Prabowo ingin bicara moral tapi takut konsekuensi. Paradoks: pemuja Trump ingin dipercaya sebagai mediator dunia Islam.
Akhirnya, paradoks ini menjadi simbol diplomasi Indonesia di era global keras. Strategi pragmatis memberi keamanan jangka pendek, tapi moral publik tetap menuntut sikap tegas. Indonesia di BoP menavigasi risiko punishment AS. Mediasi nyata tapi lucu, menegangkan, dan penuh kompromi.[]

