Menyoroti Kebijakan Konyol Wacana Sang Penguasa di Rakornas, Gentengisasi : Dari Perut ke Atap
Oleh. Asmediati
PAGI itu seorang warga terbangun dengan rasa aman yang sulit dijelaskan. Ia merasa tidak lagi sendirian menjalani hidup, sebab negara tampaknya semakin dekat — bahkan mungkin terlalu dekat. Dulu negara hadir dalam pidato-pidato besar dan baliho pembangunan. Kini ia terasa sampai ke dapur, memastikan apa yang masuk ke perut rakyat cukup bergizi dan seragam. Sebuah perhatian yang, jika dipikir-pikir, hampir menyerupai kasih sayang orang tua kepada anaknya.
Namun rupanya perhatian itu belum selesai. Setelah urusan makan, negara mendongak sedikit — lalu menemukan atap-atap seng yang berkilau kepanasan di bawah matahari. Dari sana lahir gagasan yang terdengar sederhana sekaligus monumental: gentengisasi. Sebuah proyek yang seolah ingin mengatakan bahwa kesejahteraan tidak boleh berhenti di piring, tetapi harus naik sampai ke kepala.
Konon seng itu panas, mudah berkarat, dan kurang nyaman dipandang. Logika yang sulit dibantah, sebab hidup sendiri sudah cukup panas bagi sebagian warga. Maka genteng pun dibayangkan sebagai teduh yang lebih beradab. Negara tampaknya tidak ingin rakyat kepanasan dua kali — oleh matahari dan oleh keadaan.
Tetapi di beranda-beranda kecil, muncul pertanyaan lirih yang tidak pernah benar-benar menjadi teriakan: apakah semua rakyat memang sedang meminta digentengi? Sebab bagi sebagian orang, fungsi atap selama ini cukup sederhana — tidak bocor saat hujan, tidak runtuh saat angin datang. Estetika jarang masuk daftar kebutuhan mendesak ketika harga kebutuhan pokok lebih sering terasa seperti ujian ketahanan mental.
Ada pula kegelisahan yang lebih sunyi. Jika genteng lebih mahal daripada seng, siapakah yang akan membayar selisih keteduhan itu? Bila rakyat kecil harus menanggungnya, teduh bisa berubah menjadi beban. Jika negara yang menanggung, maka muncul pertanyaan lama dalam ekonomi publik: dari pos mana perhatian itu dipindahkan? Sebab anggaran, seperti juga kasih sayang, selalu memiliki batas.
Barangkali karena itu sebagian orang mulai membandingkan dalam hati — bukan dengan nada menolak, melainkan heran. Di negeri yang masih berjuang meratakan kualitas pendidikan dan akses kesehatan, genteng tiba-tiba tampak seperti metafora yang terlalu tinggi. Seolah-olah masalah terbesar rakyat adalah cuaca di atas kepala, bukan masa depan yang sering terasa jauh dari jangkauan.
Namun negara modern memang memiliki kecenderungan yang menarik: ia ingin hadir sebelum warganya merasa membutuhkan. Sebuah bentuk kepedulian yang nyaris menyentuh semua sudut kehidupan. Negara tampaknya semakin khawatir rakyat tidak tahu cara hidup yang benar — maka pelan-pelan ia membantu menentukan.
Di warung kopi, imajinasi pun bekerja dengan cara paling jenaka. Jika atap sudah ditata demi keindahan bersama, mungkinkah suatu hari warna tembok ikut diselaraskan agar harmoni nasional lebih terasa? Tinggi pagar diatur supaya kecemburuan sosial tidak melonjak terlalu tinggi? Bahkan arah jendela ditentukan agar angin optimisme masuk dengan sudut yang tepat?
Orang-orang tertawa membayangkannya. Tetapi tawa itu terdengar setengah ragu — seperti seseorang yang bercanda sambil diam-diam bertanya apakah candaan itu benar-benar mustahil.
Sebab sejarah sering mengajarkan satu hal sederhana: kekuasaan jarang datang dengan suara keras. Ia masuk pelan-pelan, administratif, sering dibungkus niat baik. Tidak terasa menekan, hanya terasa semakin mendampingi — sampai suatu hari orang lupa di mana batas antara ruang publik dan ruang privat.
Rumah, yang dulu dipercaya sebagai benteng terakhir kebebasan kecil manusia, perlahan berpotensi berubah menjadi etalase kebijakan. Bukan karena ada paksaan yang nyata, melainkan karena perhatian yang begitu besar sehingga sulit ditolak tanpa terlihat tidak bersyukur.
Negara tidak sedang memaksa. Ia hanya tampak terlalu peduli — sampai-sampai tidak rela ada satu pun sudut kehidupan yang luput dari pengawasan halusnya. Perut diperhatikan. Atap diperbaiki. Dan warga mulai bertanya dalam diam: di manakah batas kepedulian berhenti dan pilihan pribadi dibiarkan hidup?
Tentu saja selalu ada argumen rasional di balik kebijakan semacam ini. Perumahan yang lebih baik dapat meningkatkan kesehatan, menggerakkan industri bahan bangunan, membuka lapangan kerja, bahkan mempercantik wajah kota. Niat baik hampir tidak pernah kekurangan alasan.
Namun pertanyaan terpenting dalam setiap kebijakan publik sebenarnya bukan sekadar “apakah ini baik,” melainkan “apakah ini yang paling mendesak.” Prioritas adalah bahasa paling jujur dari sebuah negara. Dari sanalah rakyat belajar membaca arah.
Di tengah segala keseriusan itu, rakyat menunjukkan bakat lamanya: beradaptasi dengan humor. “Syukurlah,” kata seseorang sambil tersenyum, “akhirnya yang bocor nanti hanya dompet, bukan atap.” Gelak kecil pun pecah — humor murah yang sering menjadi cara paling elegan untuk menjaga kewarasan.
Dan negara tampaknya belum berhenti mendaki. Setelah perut dan atap, imajinasi mulai bertanya-tanya apa lagi yang terlihat belum cukup tertib. Mungkin suatu hari negara akan mengetuk pintu dengan ramah, hanya untuk memastikan bahwa mimpi-mimpi warganya telah selaras dengan rencana pembangunan jangka panjang.
Tidak ada yang benar-benar tahu.
Tetapi satu hal perlahan terasa: dulu negara hadir ketika rakyat membutuhkan. Kini negara hadir bahkan sebelum rakyat merasa membutuhkan.
Mungkin ini adalah bentuk cinta yang sangat besar. Atau mungkin juga bentuk kekhawatiran yang terlalu dalam.
Sementara itu rakyat hanya berharap satu hal sederhana — semoga dalam segala rencana memperbaiki hidup mereka, masih ada ruang yang dibiarkan menjadi milik mereka sendiri. Sebab kebebasan, seperti udara, justru paling terasa keberadaannya ketika ia tidak diatur.
Dan jika suatu hari seluruh atap telah seragam dan tampak indah dari langit, semoga kita masih ingat bahwa martabat sebuah bangsa tidak hanya ditentukan oleh apa yang menaungi kepala warganya — tetapi juga oleh seberapa luas mereka diberi ruang untuk memilih.[]

