Menyoal Wacana Penguasa dalam Rakornas yang Blunder : Wajib Genteng yang “Tidak Genting”
Oleh. Asmediati
Entah sejak kapan genteng naik pangkat menjadi urusan strategis negara. Atap rumah mendadak terdengar seperti garis depan pembangunan. Seolah-olah kemajuan bangsa bisa diukur dari suara hujan—apakah ia jatuh di seng atau di tanah liat. Padahal bagi banyak rakyat, yang lebih sering bocor bukan atap, melainkan rencana keuangan sebelum tanggal tua.
Lucunya, tak pernah ada demonstrasi rakyat menuntut genteng. Kita belum pernah melihat massa berteriak, “Hidup genteng!” sambil mengepalkan tangan. Orang biasanya turun ke jalan karena beras mahal atau kerja sulit, bukan karena atap terlalu berisik. Tapi begitulah negara, kadang mendengar sesuatu yang bahkan belum sempat dikeluhkan.
Barangkali dari langit negeri ini terlihat lebih sederhana. Yang tampak hanya barisan atap—kalau seragam pasti indah difoto. Dari atas, kehidupan memang terlihat rapi, seperti miniatur di etalase. Hanya saja rakyat tidak hidup di ketinggian itu; mereka hidup di bawah segala yang terasa nyata.
Sementara negara membayangkan kampung yang estetik, ada sekolah-sekolah yang masih berdinding bambu dan beratap rumbia. Jika angin lewat sedikit saja, seluruh bangunan ikut bergetar seperti ingin pindah alamat. Kalau hujan turun, guru kadang harus menaikkan volume suara, bersaing dengan bunyi air yang lebih percaya diri. Di sana anak-anak belajar satu pelajaran tambahan: bertahan.
Beberapa sekolah bahkan belum akrab dengan lantai semen. Tanah menjadi alas duduk sekaligus saksi diam mimpi-mimpi kecil yang sedang tumbuh. Saat hujan, kelas berubah seperti percobaan ilmu alam tentang lumpur. Kita sibuk merapikan apa yang di atas kepala, tetapi lupa memastikan apa yang menopang kaki mereka.
Di perjalanan menuju sekolah, banyak anak mengenakan satu-satunya seragam yang mereka punya. Dicuci sore hari dengan harapan matahari esok cukup murah hati untuk mengeringkannya. Kalau tidak kering, ya dipakai juga—sedikit dingin tak apa, asal tetap bisa masuk kelas. Anak-anak ini tidak banyak menuntut; mereka hanya belajar berdamai dengan keadaan lebih cepat dari usianya.
Ada juga yang diam-diam menjaga jarak agar robekan di lengan tak terlalu terlihat. Bagi mereka, rasa malu bisa lebih menusuk daripada teguran guru. Negara berbicara tentang keindahan permukiman, sementara anak-anak sibuk menjaga keindahan harga diri. Kadang kemiskinan bukan hanya soal kekurangan, tetapi soal bagaimana menutupinya.
Masuk ke kelas, cerita belum selesai. Ketika guru berkata, “silakan buka bukunya,” beberapa anak hanya saling pandang sebelum akhirnya merapat ke teman sebangku. Satu buku dibaca dua atau tiga kepala, bukan karena metode belajar baru, tetapi karena pilihan memang sedikit. Beginilah cara masa depan dibaca bersama-sama—huruf demi huruf.
Memang buku tidak spektakuler. Ia tidak bisa dipamerkan dalam peresmian besar dengan tepuk tangan panjang. Tidak ada yang berfoto bangga di depan tumpukan LKS. Padahal sering kali kemajuan bangsa dimulai dari benda sunyi bernama buku.
Lalu soal kesehatan—ini cerita yang nadanya lebih pelan lagi. Masih banyak orang berpikir dua kali sebelum sakit, bukan karena takut penyakitnya, tetapi takut biayanya. Rumah boleh saja tampak lebih kokoh, tapi apa artinya jika penghuninya menahan nyeri sambil berkata, “nanti saja ke dokter.” Kadang genteng kuat, tetapi tubuh yang di bawahnya rapuh.
Di titik ini kita mungkin perlu berhenti sebentar dan bertanya: apa sebenarnya yang membuat negara gelisah? Sebab arah kebijakan sering lahir dari kegelisahan itu. Apakah yang mengganggu adalah tampilan negeri dari kejauhan, atau kenyataan hidup rakyat dari kedekatan. Pertanyaan sederhana, tapi jawabannya menentukan wajah masa depan.
Tentu genteng bukan musuh; berteduh itu kebutuhan dasar. Namun ada hal-hal yang jauh lebih genting: sekolah yang kokoh, buku yang cukup, pakaian yang menjaga percaya diri, dan layanan kesehatan yang tidak membuat orang takut jatuh sakit. Jangan sampai kita terlalu sibuk memperindah yang terlihat hingga terlambat memperbaiki yang terasa. Karena sebuah bangsa tidak goyah oleh atap yang sederhana, melainkan oleh fondasi yang lama diabaikan.[]

