Konflik Iran, Israel dan AS Kini Telah Mengubah Izzah Geopolitik Global
Oleh. Tengku Zulkarnaen
Negara negara Eropa saat telah berupaya mendekati Iran, tujuannya melobi pemerintah Iran agar diizinkan melewati selat Hormuz dengan aman.
Harga bensin dan gas sekarang terus naik, hal ini sangat memberatkan ekonomi Eropa dan akan segera memukul ekonomi barat.
Jika situasi seperti sekarang terus berlanjut, maka tidak tertutup kemungkinan krisis energi akan semakin dalam. Apalagi kondisi ekonomi Eropa saat ini bisa dibilang sedang sakit efek perang Ukraina.
Di AS sendiri, harga bahan bakar terus naik. Kalau bulan lalu sebelum perang pecah, untuk kendaraan normal pada umumnya kendaraan pribadi, hanya butuh 40 USD untuk isi full tank. Tapi sekarang dimasa perang. Butuh 70 USD untuk mengisi full tank. Naik hampir 100%.
Kondisi ini akan mempengaruhi politik domestik AS itu sendiri. Kemungkinan Partai Republik kalah dalam pemilu mendatang di AS terbuka selebar lebarnya. Dan Trump adalah biang keroknya.
Tapi saat ini, Trump menolak mengakui kondisi bahaya ini, Trump dan kabinetnya terus beretorika sombong dan arogan. Seakan dia mampu menghandle situasi. Padahal di belakang layar, AS babak belur akibat perang dengan Iran.
Kesombongan dan arogansi Trump memang diluar nalar, sekali lagi membuktikan bahwa Trump terindikasi Presiden dengan gejala sakit jiwa. Rakyat AS menjadi korban sakit jiwanya Trump dan kabinetnya.
Sedangkan Iran sendiri, Iran menguasai selat Hormuz saat ini secara menyeluruh. Tidak ada kapal yang boleh lewat kecuali dengan izin Iran.
Statement pemimpin tertinggi Iran kemarin malam yang terus meminta IRGC menutup selat Hormuz semakin mencekam bagi kondisi GeoPolitik global. Karena setiap perkataan pemimpin tertinggi Iran adalah fatwa yang segera akan dijalankan.
Di Israel sendiri, sama seperti Trump, Netanyahu terus menerus beretorika seolah oleh Israel baik baik saja. Padahal kondisi Israel babak belur, kota kota di Israel mirip dengan kota kota di Jerman, ketika sekutu telah memasuki Berlin di akhir perang dunia ke II.
Netanyahu dan Trump memiliki kesamaan, kelainan mental dan psikopat, memiliki sifat narsisistik akut yang sangat mengerikan. Terus merasa berjaya walaupun sudah terpuruk sedalam-dalamnya.
Iran sendiri bukan hanya menguasai Selat Hormuz, tapi Iran terus dengan lancar menjalankan bisnis ekspor impor minyak lewat Selat Hormuz ini dengan negara luar tanpa hambatan.
Iran ditengah tengah perang, telah berhasil mengeskpor minyak ke China sebanyak 16,8juta barel alias 1,3 JT an barel per hari. Tanpa hambatan dan gangguan.
Sedangkan AS dan sekutunya tidak ada yang boleh lewat, apalagi mau melakukan perdagangan ekspor impor, lewat saja gak bisa, dan pemerintah AS yang katanya super power tidak berhasil membuka akses Selat Hormuz yang diblokir Iran.
Harga energi akan terus melonjak, jika perang ini berlangsung lebih sebulan saja. Maka harga minyak dunia bisa tembus ke angka 200 USD per barel. Dan akan segera menjadi bencana Internasional.
Tekanan terhadap Trump saat ini terus meningkat dari berbagai belahan dunia. Agar segera menghentikan perang dengan Iran.
Tapi berhenti perang dengan Iran artinya AS dan Israel menyerah, menyerah kalah tanpa syarat, dan akan diharuskan menerima syarat Iran yang kemungkinan akan sangat berat untuk dilaksanakan.
Tapi walaupun jika AS dan Israel mau menghentikan perang, Iran belum tentu mau, sekarang mode Iran masih mode tempur dan tidak ada kosakata menyerah atau negosiasi.
Pemimpin pemimpin sakit jiwa seperti Trump dan Netanyahu akan terus menerus merasa AS dan Israel dalam kondisi baik baik saja. Walaupun realitas di lapangan berkata lain. Karena mereka sendiri tidak memiliki jalan keluar. No exit strategy.
Ketika anda melihat sekarang banyak negara yang mengemis ke Iran agar membuka jalur perdagangan dan minta izin lewat Selat Hormuz ke Iran. Inilah yang disebut dengan Izzah GeoPolitik.**

