Ketika Iran Umumkan Hanya China, Pakistan dan Russia Diizinkan Melintas di Selat Hormuz
Catatan Redaksi
Konflik Timur Tengah antara AS, Iran dan Israel terjadi setelah BoP dibentuk dan dideklarasikan baru baru ini, Board of Peace (BoP) adalah badan internasional yang diinisiasi oleh Presiden AS Donald Trump pada awal 2026 untuk mengelola transisi, keamanan, dan rekonstruksi di Gaza pascakonflik. Lembaga ini berfokus pada pendekatan langsung, pendanaan rekonstruksi, dan pelucutan senjata, dengan Donald Trump sebagai ketua seumur hidup.
BOP bertujuan untuk merekonstruksi Gaza dan menciptakan perdamaian di Timur Tengah, seringkali bertindak di luar mekanisme PBB. Kegiatan utamanya mencakup mengawasi gencatan senjata dan memfasilitasi bantuan kemanusiaan. Dipimpin oleh Donald Trump dengan hak veto mutlak. Komite eksekutifnya melibatkan tokoh seperti Jared Kushner dan Tony Blair.
Keanggotaan BOP Terdiri dari lebih dari 25 negara, termasuk Indonesia, Arab Saudi, Mesir, Yordania, Turki, Qatar, dan Israel. BoP dikritik karena dianggap memusatkan kekuasaan pada ketua, kurangnya keterwakilan Palestina yang bermakna, dan berpotensi melemahkan peran PBB.
Indonesia bergabung sebagai negara pendiri untuk memperkuat diplomasi dan memastikan kemerdekaan Palestina, meskipun memicu perdebatan mengenai potensi normalisasi dan besarnya biaya kontribusi.
Jika Prabowo Subianto tidak gegabah bergabung dengan skema BOP itu, posisi Indonesia mungkin masih dihitung dalam percaturan kawasan.
Sekarang lihat faktanya. Akses strategis ke Strait of Hormuz justru hanya diberikan kepada tiga negara: China, Russia, dan Pakistan.
Artinya apa? Indonesia yang dulu ingin tampil sebagai kekuatan non-blok justru tersingkir dari panggungnya sendiri. Ini bukan sekadar soal lewat atau tidak lewat selat,ini soal bagaimana keputusan politik yang ceroboh bisa membuat sebuah negara tiba-tiba tak lagi dianggap penting dalam peta strategi dunia.”
Redaksi _

