JEJAKMEDIANEWS.ID, TEHERAN— Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, dilaporkan tewas setelah jasadnya ditemukan di bawah reruntuhan kompleks kediamannya di Teheran yang hancur akibat serangan udara besar-besaran pada Sabtu (28/2) siang waktu setempat.
Otoritas Iran menyebut lokasi kediaman Khamenei menjadi salah satu target utama dalam gelombang serangan yang menghantam sejumlah titik strategis di ibu kota. Proses evakuasi dilakukan selama berjam-jam di tengah puing bangunan yang runtuh, sebelum akhirnya tim penyelamat menemukan jasad pemimpin tertinggi Republik Islam Iran tersebut.
Televisi pemerintah Iran mengonfirmasi kematian Khamenei pada Minggu dini hari dengan menayangkan siaran berkabung nasional. Layar televisi dihiasi pita hitam, diiringi lantunan ayat suci Al-Qur’an, sementara penyiar membacakan pernyataan resmi Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran terkait wafatnya sang pemimpin.
Kabar tersebut sebelumnya beredar di kalangan internasional beberapa jam setelah serangan terjadi. Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, mengumumkan klaim kematian Khamenei melalui media sosial. Sementara itu, Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, disebut telah menerima laporan intelijen terkait hasil operasi tersebut.
Sumber-sumber diplomatik menyebutkan bahwa foto jasad Khamenei bahkan telah diperlihatkan kepada Trump dan Netanyahu sebagai bagian dari laporan internal pasca-operasi. Pemerintah Iran mengecam keras klaim tersebut dan menilai penyebaran foto jenazah sebagai tindakan provokatif yang memperkeruh situasi regional.
Pasca-konfirmasi kematian Khamenei, Iran menetapkan masa berkabung nasional dan meningkatkan status siaga militer. Ribuan warga turun ke jalan di berbagai kota, menggelar doa bersama sekaligus aksi protes mengecam Amerika Serikat dan Israel. Aparat keamanan memperketat penjagaan di fasilitas vital, bandara, dan pusat pemerintahan.
Ketegangan di kawasan Timur Tengah pun melonjak tajam. Sejumlah negara tetangga dilaporkan meningkatkan kewaspadaan, sementara komunitas internasional mendesak semua pihak menahan diri agar eskalasi konflik tidak berkembang menjadi perang terbuka berskala regional.
Sumber: The Washington Post

