Antara Takhayul dan Rasionalitas
Oleh Asmediati
Bangsa besar tidak hanya dibangun oleh sumber daya alam yang melimpah, wilayah yang luas, atau jumlah penduduk yang besar. Bangsa besar dibentuk oleh kualitas karakter manusianya. Karakter itulah yang menentukan apakah suatu bangsa mampu berdiri tegak menghadapi tantangan zaman atau justru terjebak dalam lingkaran stagnasi. Dalam konteks Indonesia, sering muncul kritik sosial yang menyebutkan bahwa ada enam sifat yang masih melekat dalam sebagian perilaku masyarakat, yaitu munafik atau hipokrit, enggan dan segan bertanggung jawab, berperilaku feodal, percaya takhayul, terlalu artistik dalam arti kurang rasional, dan memiliki karakter yang lemah.
Kritik ini tentu bukan untuk merendahkan bangsa sendiri, melainkan sebagai cermin refleksi agar kita mampu melihat diri secara jujur. Tanpa keberanian untuk bercermin, sebuah bangsa akan terus mengulang kesalahan yang sama. Opini ini mencoba membaca enam sifat tersebut sebagai fenomena sosial yang perlu dipahami sekaligus diatasi jika Indonesia ingin menjadi bangsa yang benar-benar maju.
Munafik atau Hipokrit
Sifat pertama yang sering disebut adalah kemunafikan atau hipokrisi. Munafik dalam konteks sosial berarti adanya jarak antara apa yang dikatakan dan apa yang dilakukan. Dalam kehidupan sehari-hari, kita sering menemukan orang yang berbicara tentang kejujuran tetapi melakukan kecurangan, mengkampanyekan moralitas tetapi melanggar etika, atau mengkritik kesalahan orang lain namun menutup mata terhadap kesalahan sendiri.
Hipokrisi seperti ini dapat ditemukan di berbagai lapisan masyarakat. Dalam politik misalnya, tidak jarang para pemimpin mengumbar janji yang manis kepada rakyat, tetapi setelah memperoleh kekuasaan, janji tersebut menguap begitu saja. Dalam kehidupan sosial, kita juga sering melihat orang yang tampil religius atau bermoral di ruang publik, namun dalam praktiknya melakukan tindakan yang bertentangan dengan nilai yang mereka ucapkan.
Kemunafikan adalah penyakit sosial yang berbahaya karena merusak kepercayaan. Ketika masyarakat tidak lagi percaya pada ucapan pemimpin, institusi, atau bahkan sesama warga, maka solidaritas sosial akan melemah. Tanpa kepercayaan, kerja sama menjadi sulit dibangun.
Enggan dan Segan Bertanggung Jawab
Sifat kedua yang sering dikritik adalah kecenderungan menghindari tanggung jawab. Dalam banyak kasus, ketika terjadi masalah, sering kali yang muncul bukanlah keberanian untuk mengakui kesalahan, melainkan upaya mencari kambing hitam.
Budaya menyalahkan orang lain ini dapat terlihat dalam berbagai bidang, mulai dari birokrasi, organisasi, hingga kehidupan sehari-hari. Ketika suatu program gagal, jarang ada pihak yang dengan jujur mengatakan, “Ini kesalahan saya.” Sebaliknya, yang muncul adalah saling lempar tanggung jawab.
Padahal, salah satu ciri masyarakat maju adalah adanya budaya akuntabilitas. Di negara-negara yang memiliki sistem sosial yang kuat, pemimpin yang gagal menjalankan tugasnya akan dengan lapang dada mengundurkan diri. Tindakan tersebut bukan dianggap sebagai kelemahan, melainkan sebagai bentuk tanggung jawab moral.
Jika masyarakat terbiasa menghindari tanggung jawab, maka kemajuan akan sulit dicapai. Sebab kemajuan selalu lahir dari keberanian untuk mengakui kesalahan dan memperbaikinya.
Perilaku Feodal
Sifat ketiga yang masih sering dibicarakan adalah perilaku feodal. Feodalisme adalah pola hubungan sosial yang menempatkan hierarki kekuasaan secara kaku, di mana orang yang berada di posisi atas diperlakukan seperti penguasa yang tidak boleh dikritik, sementara mereka yang berada di bawah harus patuh tanpa banyak bertanya.
Warisan feodalisme ini masih terasa dalam berbagai struktur sosial di Indonesia. Dalam birokrasi misalnya, sering kali bawahan merasa sungkan mengkritik atasan meskipun mengetahui bahwa keputusan yang diambil tidak tepat. Dalam dunia pendidikan, tidak jarang mahasiswa atau siswa merasa takut menyampaikan pendapat yang berbeda dengan guru atau dosennya.
Budaya feodal seperti ini dapat menghambat perkembangan pemikiran kritis. Padahal, kemajuan suatu bangsa sangat bergantung pada keberanian warganya untuk berpikir mandiri dan mengemukakan gagasan baru.
Jika masyarakat terlalu tunduk pada hierarki tanpa ruang dialog, maka inovasi akan terhambat. Ide-ide segar yang seharusnya dapat memperbaiki sistem justru terpendam karena rasa takut atau sungkan.
Percaya Takhayul
Sifat berikutnya adalah kecenderungan mempercayai takhayul. Kepercayaan terhadap hal-hal yang bersifat mistis sebenarnya bukan hanya milik masyarakat Indonesia. Hampir semua budaya di dunia memiliki tradisi dan mitos yang diwariskan secara turun-temurun.
Namun masalah muncul ketika kepercayaan terhadap takhayul menggantikan nalar rasional. Misalnya ketika keputusan penting diambil bukan berdasarkan data dan pertimbangan logis, melainkan berdasarkan ramalan, hari baik, atau kepercayaan yang tidak dapat diverifikasi.
Dalam masyarakat modern, rasionalitas dan ilmu pengetahuan seharusnya menjadi landasan dalam mengambil keputusan. Kemajuan teknologi, kesehatan, dan pendidikan tidak mungkin tercapai jika masyarakat lebih percaya pada mitos daripada pada penelitian ilmiah.
Bukan berarti tradisi harus dihapuskan. Tradisi adalah bagian dari identitas budaya. Namun tradisi perlu ditempatkan secara proporsional agar tidak menghambat perkembangan ilmu pengetahuan.
Terlalu Artistik dan Kurang Rasional
Sifat berikutnya yang sering disebut adalah kecenderungan terlalu artistik atau emosional. Bangsa Indonesia dikenal memiliki kekayaan budaya yang luar biasa: seni tari, musik, sastra, dan berbagai bentuk ekspresi estetika lainnya. Ini adalah kekuatan yang patut dibanggakan.
Namun kritik yang muncul biasanya mengarah pada kecenderungan masyarakat yang lebih mengutamakan perasaan daripada rasionalitas dalam mengambil keputusan. Dalam diskusi publik misalnya, tidak jarang argumen logis kalah oleh retorika yang menyentuh emosi.
Dalam politik, pidato yang penuh drama sering kali lebih mempengaruhi massa dibandingkan analisis kebijakan yang rasional. Dalam kehidupan sosial, simpati dan empati kadang membuat masyarakat mudah terpengaruh oleh informasi yang belum tentu benar.
Padahal, kemajuan suatu bangsa memerlukan keseimbangan antara rasa dan rasio. Kreativitas dan seni memang penting, tetapi harus disertai dengan kemampuan berpikir kritis dan analitis.
Karakter yang Lemah
Sifat terakhir yang sering dikritik adalah karakter yang lemah. Lemah dalam konteks ini bukan berarti tidak memiliki potensi, melainkan kurangnya keteguhan dalam memegang prinsip.
Misalnya, seseorang mungkin mengetahui bahwa korupsi adalah tindakan yang salah, tetapi tetap melakukannya ketika ada kesempatan. Atau seseorang mungkin memiliki idealisme yang kuat ketika masih muda, tetapi kemudian mengorbankan nilai-nilai tersebut demi kenyamanan pribadi.
Karakter yang kuat ditandai oleh konsistensi antara nilai yang diyakini dan tindakan yang dilakukan. Orang yang berkarakter kuat tidak mudah tergoda oleh keuntungan jangka pendek jika itu bertentangan dengan prinsip moralnya.
Jika sebuah bangsa dipenuhi oleh individu yang memiliki karakter kuat, maka berbagai persoalan seperti korupsi, penyalahgunaan kekuasaan, dan ketidakadilan akan lebih mudah diatasi.
Refleksi untuk Perubahan
Menyebut enam sifat tersebut bukan berarti bahwa seluruh masyarakat Indonesia memiliki karakter seperti itu. Dalam kenyataannya, banyak sekali individu di negeri ini yang memiliki integritas tinggi, keberanian moral, dan semangat tanggung jawab yang besar.
Namun kritik sosial seperti ini penting sebagai bahan refleksi. Setiap bangsa yang ingin maju harus berani melakukan evaluasi terhadap dirinya sendiri. Jepang, Korea Selatan, dan berbagai negara maju lainnya juga pernah melakukan introspeksi mendalam terhadap budaya mereka sebelum mencapai kemajuan seperti sekarang.
Indonesia memiliki potensi yang luar biasa: sumber daya alam yang melimpah, keberagaman budaya yang kaya, serta jumlah penduduk yang besar. Jika potensi ini didukung oleh karakter masyarakat yang kuat, maka masa depan bangsa akan sangat cerah.
Perubahan karakter tentu tidak dapat terjadi secara instan. Ia memerlukan proses panjang melalui pendidikan, keteladanan pemimpin, serta budaya sosial yang mendukung nilai-nilai integritas, tanggung jawab, dan rasionalitas.
Sekolah harus menjadi tempat pembentukan karakter, bukan sekadar tempat menghafal pelajaran. Pemimpin harus menjadi teladan, bukan hanya pemberi pidato. Media sosial harus menjadi ruang diskusi yang sehat, bukan arena penyebaran hoaks dan provokasi.
Penutup
Pada akhirnya, kemajuan suatu bangsa tidak hanya ditentukan oleh kebijakan pemerintah atau pembangunan fisik. Yang lebih menentukan adalah kualitas mental dan karakter masyarakatnya.
Jika masyarakat mampu meninggalkan kemunafikan, berani bertanggung jawab, melepaskan budaya feodal, mengedepankan rasionalitas, menyeimbangkan emosi dengan logika, serta membangun karakter yang kuat, maka Indonesia akan memiliki fondasi yang kokoh untuk menjadi bangsa yang benar-benar maju.
Kritik terhadap enam sifat tersebut seharusnya tidak dianggap sebagai penghinaan, melainkan sebagai panggilan untuk berbenah. Sebab bangsa yang besar bukanlah bangsa yang tidak memiliki kelemahan, melainkan bangsa yang berani mengakui kelemahannya dan bekerja keras untuk memperbaikinya.[]

