Pesan dari Lembah Suci Tuwa; Ketika Pemimpin Tak Pernah Masuk Lembah Sunyi

Pesan dari Lembah Suci Tuwa;

Ketika Pemimpin Tak Pernah Masuk Lembah Sunyi

 

Oleh: Asep Tapip Yani

 

Dosen Universitas Mitra Bangsa Jakarta

Kita hidup di zaman yang aneh. Pemimpin ada di mana-mana, tetapi keteladanan terasa langka. Pidato berlimpah, tetapi kebijaksanaan terasa mahal. Kebijakan cepat lahir, tetapi nurani sering tertinggal. Barangkali masalahnya bukan pada kurangnya kecerdasan. Melainkan karena terlalu banyak pemimpin yang tidak pernah melewati “Tuwa”.

Di dalam Al-Qur’an, Nabi Musa dipanggil di Lembah Tuwa, sebuah lembah suci yang oleh para mufasir dikaitkan dengan kawasan sekitar Gunung Sinai di wilayah Mesir. Di sanalah Musa mendengar panggilan Ilahi. Bukan di istana. Bukan di forum elite. Bukan di ruang negosiasi politik. Tetapi di tempat sunyi. Dan mungkin di situlah rahasia kepemimpinan yang hilang hari ini.

 

Kepemimpinan Tanpa Keheningan

Zaman digital melahirkan pemimpin dengan kecepatan algoritma. Popularitas bisa dibangun dalam hitungan jam. Narasi bisa direkayasa dalam hitungan menit. Opini publik bisa digiring dalam hitungan detik. Namun karakter tidak pernah tumbuh secepat itu.

Sebelum Musa menghadapi Fir’aun, ia lebih dulu diperintahkan: “Lepaskanlah kedua terompahmu.” Sebuah simbol kerendahan hati. Sebuah isyarat bahwa kekuasaan tidak boleh dibangun di atas ego. Bandingkan dengan kondisi hari ini: banyak orang ingin berdiri di panggung, tetapi jarang yang mau berdiri dalam keheningan.

Filsuf Denmark, Søren Kierkegaard, pernah mengingatkan: “The most common form of despair is not being who you are.” Putus asa terbesar adalah hidup tanpa kesadaran diri. Dan pemimpin yang tidak mengenal dirinya sendiri akan mudah terjebak dalam kepalsuan citra.

 

Politik Tanpa Transendensi

Krisis modern bukan sekadar korupsi uang. Lebih dalam dari itu: krisis makna. Ketika kekuasaan dilepaskan dari nilai transenden, kebijakan menjadi kalkulasi elektoral semata. Target dihitung dari suara, bukan dari kebermanfaatan. Pemimpin takut kehilangan kursi, bukan takut kehilangan integritas. Di Tuwa, Musa tidak diberi kursi. Ia diberi misi.

Nelson Mandela dari Afrika Selatan pernah berkata: “A good head and a good heart are always a formidable combination.” Kepala yang cerdas tanpa hati yang jernih hanya melahirkan kecanggihan tanpa kemanusiaan.

Tuwa adalah tempat penyucian hati sebelum penggunaan kekuasaan. Tanpa itu, sejarah hanya akan mengulang lahirnya “Fir’aun-Fir’aun” baru —bukan dalam bentuk mahkota, tetapi dalam bentuk ambisi tak terkendali.

 

Pendidikan yang Kehilangan Lembah Sunyi

Lebih mengkhawatirkan lagi, krisis Tuwa juga menjalar ke dunia pendidikan. Sekolah sibuk mengejar: Akreditasi unggul, Ranking nasional, Sertifikasi internasional, Branding digital, dan Simbol-simbol citra lainnya. Namun jarang bertanya:“Apakah kita sedang membentuk manusia, atau hanya mencetak angka?”

Paulo Freire, tokoh pendidikan kritis dari Brasil, dalam Pedagogy of the Oppressed, mengkritik pendidikan yang hanya menjadi “banking system”— murid diperlakukan seperti rekening kosong yang diisi data.

Tanpa Tuwa, pendidikan menjadi mekanis. Ada kurikulum, tapi kehilangan kesadaran. Ada ujian, tapi kehilangan tujuan. Padahal di Tuwa, Musa tidak diberi silabus. Ia diberi keberanian moral. Guru hari ini lebih sibuk mengisi rapor daripada mengisi makna. Kepala sekolah lebih sibuk laporan daripada perenungan.

Padahal John Dewey dari Amerika pernah menegaskan: “Education is not preparation for life; education is life itself.” Jika pendidikan adalah kehidupan itu sendiri, maka ia butuh ruang hening untuk memaknai hidup, bukan sekadar ruang kelas untuk menyelesaikan materi.

 

Mengapa Kita Takut Sunyi?

Mungkin karena sunyi itu jujur. Di keheningan, tidak ada tepuk tangan. Tidak ada like dan share. Tidak ada pencitraan. Yang ada hanya pertanyaan: Mengapa saya memimpin? Untuk siapa saya bekerja? Dan apa yang akan saya pertanggungjawabkan?

Tuwa memaksa manusia berhadapan dengan dirinya sendiri. Dan itu menakutkan. Namun tanpa keberanian memasuki lembah sunyi, kita hanya akan melahirkan generasi yang pandai berbicara

tetapi miskin kedalaman.

 

Krisis Terbesar Kita: Kehilangan Tuwa

Barangkali krisis terbesar bangsa-bangsa hari ini bukan krisis ekonomi, bukan krisis politik,

bukan krisis teknologi. Melainkan krisis refleksi. Kita kehilangan ruang sunyi untuk mendengar suara yang lebih tinggi daripada suara kita sendiri.

Padahal sejarah menunjukkan: seorang penggembala yang berdiri di lembah sunyi lebih berbahaya bagi tirani daripada seribu orator di panggung kekuasaan. Lembah Tuwa mungkin berada di sekitar Gunung Sinai. Tetapi Tuwa yang sejati ada dalam batin manusia.

Pertanyaannya bukan lagi di mana ia berada. Pertanyaannya: Apakah kita berani memasukinya? @@@

 

Berita Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *