Deforestasi Legal: Kita Sedang Memakan Masa Depan Mereka

Deforestasi Legal: Kita Sedang Memakan Masa Depan Mereka

 

Oleh. Asmediati

 

Walhi baru saja memukul lonceng, mengingatkan tanda kematian masa depan sebelum masa itu tiba. Dengan merilis laporan tentang 26 juta hektar hutan yang akan hilang secara legal, kita tertunduk memikirkan nasib generasi mendatang. Lonceng itu tidak berdentang keras, tetapi gaungnya menembus ruang batin. Ia seolah berbisik: tragedi terbesar sering diumumkan dengan suara paling tenang.

Kita hidup di zaman ketika kehancuran tidak datang diam-diam. Ia justru dirancang, dihitung, lalu disahkan dengan prosedur yang rapi. Tidak ada kepanikan, hanya tabel proyeksi dan janji pertumbuhan. Barangkali inilah bentuk paling modern ini dari sebuah ironi.

Dulu manusia menebang hutan karena tidak memahami akibatnya. Kini kita memiliki data iklim, peta risiko, dan peringatan ilmiah yang nyaris tak terbantahkan. Namun pengetahuan ternyata tidak selalu melahirkan kebijaksanaan. Kadang ia hanya membuat cara merusak menjadi lebih sistematis.

Kata “legal” terdengar menenangkan, seolah segala yang diberi izin pasti aman. Padahal alam tidak pernah belajar membaca dokumen negara. Banjir tidak menunggu tanda tangan pejabat untuk turun ke kota. Longsor pun tidak pernah bertanya apakah lereng itu sudah sesuai tata ruang.

Ada kesedihan yang sulit dijelaskan ketika kehancuran disebut sebagai bagian dari pembangunan. Kita diyakinkan bahwa mengurangi hutan adalah harga wajar untuk masa depan yang lebih baik. Namun masa depan macam apa yang dibangun dengan menghapus penyangganya sendiri? Pertanyaan itu menggantung, sering kali tanpa ruang untuk dijawab.

Satirnya lirih: kita takut mewariskan utang finansial kepada anak cucu. Tetapi tampak jauh lebih tenang mewariskan udara panas dan air sulit dijangkau. Kita sibuk menghitung pertumbuhan, tetapi jarang menghitung kehilangan. Seolah yang tidak masuk neraca bukanlah kerugian.

Barangkali hutan memang tidak bisa memilih wakil untuk berbicara di parlemen. Pohon tidak memiliki hak suara dalam pemilu. Sungai tidak mampu mengajukan gugatan konstitusional. Maka alam hanya menjawab dengan caranya sendiri—melalui cuaca ekstrem yang semakin sering.

Kita sering berkata semua ini dilakukan demi generasi mendatang. Kalimat itu terdengar mulia, hampir seperti doa kebangsaan. Namun diam-diam kita mengurangi pilihan hidup mereka. Dunia yang diwariskan semakin sempit, tetapi kita tetap berharap mereka berterima kasih.

Peradaban jarang runtuh karena satu keputusan besar. Ia terkikis oleh banyak keputusan kecil yang dianggap rasional pada masanya. Setiap izin tampak biasa, setiap pembukaan lahan terasa perlu. Hingga suatu hari kita sadar yang hilang bukan hanya hutan, melainkan keseimbangan.

Mungkin kelak anak-cucu kita akan membaca tentang zaman kita sebagai era paling cerdas sekaligus paling ceroboh. Generasi yang mampu memprediksi bencana, tetapi tetap berjalan ke arahnya. Dan ketika mereka bertanya, “Mengapa kalian tahu tetapi tetap melakukannya?”, kita hanya terdiam. Sejarah akan mencatat: kita bukan sekadar menyaksikan masa depan menipis—kitalah yang memakannya perlahan.

Tidak ada kehidupan yang aman tanpa hutan, karena hutan adalah penyangga kehidupan. Jika kita sengaja menghancurkan penyangga itu, kita menandatangani kontrak maut dengan diri sendiri. Air mengering, tanah longsor, udara panas, iklim berantakan. Teknologi tidak bisa menumbuhkan hujan atau menahan banjir untuk kita.

Menghancurkan hutan sama dengan membakar rumah sendiri sambil berharap asapnya tidak sampai ke kamar anak-anak. Kita bermain-main dengan nasib generasi yang belum lahir, sambil tersenyum seolah semua aman. Ironi terbesar: takut miskin, takut krisis ekonomi, takut gagal membangun, tetapi santai saat menghancurkan fondasi kehidupan.

Hutan adalah polis asuransi paling mahal dan paling langka—dan kita menebangnya dengan legalitas di tangan. Legalitas tidak menahan badai, tidak menghentikan kekeringan, tidak menenangkan longsor. Kita sedang memakan masa depan, mengunyahnya perlahan sambil berkata bahwa semuanya baik-baik saja.

Jika generasi mendatang bertanya, “Mengapa kalian tahu tetapi tetap melakukannya?”, kita hanya bisa menjawab lirih penuh penyesalan yang sangat terlambat: karena kita terlalu sibuk menandatangani izin dan menghitung keuntungan. Tragedi ini berjalan dengan ritme tenang, tetapi hasilnya pasti. Kita tidak lagi melihat kehancuran sebagai sesuatu yang jauh—kita sudah berada di tengahnya, menatapnya, dan tetap membiarkannya.

Berita Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *